Bahasa Inggris Bukan Lagi ‘Skill’, Melainkan Alat


(Artikel populer; oleh seorang NEB)

Adalah mengherankan melihat bahwa Bahasa Inggris sekarang diperlukan di mana-mana untuk berbagai kebutuhan dalam beragam konteks pula. Padahal Bahasa Inggris di negara kita sekarang pun masih merupakan bahasa asing, bukan dan belum bahasa kedua atau ketiga. Tetapi ternyata kebutuhan akan dirinya jauh melebihi kedudukannya dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.

Kalau kita perhatikan, Bahasa Inggris yang semakin diperlukan sekarang nampaknya tidak lagi merupakan skill, melainkan alat semata. Sebagai alat, Bahasa Inggris diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan oleh siapa saja yang memerlukannya. Sedangkan sebagai skill, ia diperlukan apik dan sempurna oleh beberapa gelintir orang saja dalam konteks yang amat terbatas pula.

Untuk memberikan beberapa contoh, Bahasa Inggris misalnya diperlukan oleh calon lulusan perguruan tinggi yang hanya akan lulus dengan skor TOEFL® 500. Padahal setelah itu, tidak ada jaminan bahwa ia akan terus menggunakan Bahasa Inggrisnya. Dalam contoh yang lain, Bahasa Inggris diperlukan—walau dalam jangka panjang—oleh guru sekolah (R)SBI sebagai bahasa instruksional untuk menyampaikan pelajarannya dalam kegiatan proses belajar-mengajar. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Yang penting untuk digarisbawahi di sini adalah fakta bahwa sebagai alat Bahasa Inggris tidak harus sempurna diperoleh dalam bentuknya tapi tetap fungsional dalam menyampaikan makna. Grammar bisa diaproksimasi, sedangkan makna harus benar-benar tersampaikan. Kalau ada masalah ketidakterpahaman, ada fungsi bahasa bertanya, meminta klarifikasi, meminta pengulangan, dll. yang dapat didayagunakan.

Untuk itu, pelatihan dan pengajaran Bahasa Inggris sejatinya menggabungkan baik fixed expressions maupun creative language dalam prakteknya. Fixed expressions adalah ekspresi bahasa tetap untuk berbagai fungsi bahasa yang dapat dilatih dan diajarkan dengan mudah kepada siswa. Creative language, pada sisi lain, adalah bahasa yang siswa kreasikan dengan memberdayakan pikirannya menggunakan kata-kata yang mereka sudah ketahui secara kreatif.

Disinyalir dalam menggunakan creative language inilah siswa belum dilatih dan diajarkan secara maksimal untuk dapat menggunakannya dengan baik. Bahasa jenis inilah karenanya yang harus dilatih lebih banyak kepada siswa karena ini berhubungan langsung dengan pengembangan cara berpikir mereka dalam Bahasa Inggris. Kemampuan ini akan terus mereka bawa ke jenjang pendidikan mereka selanjutnya. Pelatihan dan pengajaran creative language ini akan melibatkan pengajaran collocation, yaitu berjodoh atau tidak berjodohnya kata-kata dalam frasa atau klausa kreatif.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.