Bahasa Orang Lom: Relasinya dengan Berbagai Dialek Melayu Bangka, Dialek Melayu Indonesia Bagian Barat, dan Bahasa Indonesia


(Didasarkan pada makalah presentasi sebelumnya; oleh seorang NEB yang tetap peduli kepada Bahasa Melayu—bahasa ibunya)

Pendahuluan

Pulau Bangka adalah satu pulau dari Propinsi Bangka-Belitung, yang dipisahkan dari Pulau Sumatera dan Propinsi Sumatera Selatan oleh Selat Bangka. Pulau Bangka secara umum didiami oleh orang Melayu dan orang Cina keturunan, yang—kontekstual untuk disebutkan di sini—selalu hidup berdampingan secara rukun dan damai tanpa konflik. Pada tahun 1984, penduduknya ada 500.000 jiwa; pada tahun 2010 populasinya berjumlah 960.000 orang. Seperti pulau-pulau yang lain, Pulau Bangka juga memiliki suku atau orang terasing; Pulau Bangka memiliki 2 suku terasing, yaitu Orang Sekak dan Orang Lom. Orang Sekak mendiami lokasi pinggiran pantai dengan mata pencahariannya nelayan. Orang Lom, pada sisi lain, hidup di darat dan berpindah-pindah di dalam hutan untuk bertani dan berladang. Makalah ini akan khusus membahas tentang Orang Lom, utamanya bahasa mereka.

Orang Lom

Orang Lom adalah suku asli Melayu Bangka, dengan konsentrasi berdiammya di Bangka Utara, tepatnya di Air Abik dekat Gunung Muda desa saya dan Pejam dekat Belinyu. Walaupun diketahui sebagai Orang Melayu, orang luar tidak banyak mengetahui tentang kehidupan, kebudayaan, dan kepercayaan Orang Lom ini secara persis. Orang Lom pun hidup dengan menutup dirinya dari pengaruh luar, termasuk pengaruh agama, sehingga Lom sendiri akhirnya berarti ‘beLom beragama.’ Dengan kondisi seperti ini memang nampak bahwa Orang Lom adalah suku terasing, tidak tersentuh, dan tidak diketahui banyak. Mereka sering diberi label ‘terbelakang’, ‘Melayu pemakan segala’, dan ‘penuh kekuatan magis.’ Pemberian label seperti ini sebenarnya lebih merupakan stereotip tanpa bukti dan fakta yang jelas. Tapi, bagusnya, bagi Orang Lom ini memberikan mekanisme perlindungan bagi diri dan eksistensi mereka. Orang luar akan segan mendekati apalagi mengganggu kehidupan mereka.

Inilah jadinya yang telah membuat Orang Lom menjadi ‘terjaga’ dari segala pengaruh luar yang dapat merusak tatanan hidup mereka yang sudah terbina sejak puluhan bahkan ratusan tahun. Sementara bagi orang luar ini bisa jadi merupakan kerugian terhadap perkembangan peradaban, bagi mereka ini adalah cara yang paling efektif untuk tetap menjadi diri mereka utuh. Saya pribadi sewaktu SMP tahun 1984 hanya mengenal satu teman dari Orang Lom yang kebetulan bisa sekolah sampai SMP, yang saya masih ingat namanya sebagai ‘Gedoy.’ Tapi saya tidak pernah bertanya macam-macam tentang kehidupannya di luar diskusi pelajaran sekolah secara umum. Seperti anak-anak yang lain, saya pun mendapat pesan dari orang tua untuk berhati-hati dengan Orang Lom dan anak-anaknya yang kami temui, walaupun mereka sudah ‘makan bangku sekolah’ seperti Gedoy di atas.

Penelitian tentang Orang Lom

Pemberian tahun 1984 di atas untuk statistik jumlah penduduk pulau Bangka tahun itu dan nama teman SMP saya ‘Gedoy’ bukanlah tanpa tujuan. Saya bermaksud memberikan tonggak masa lalu terhadap satu titik di masa depan di mana akhirnya saya menemukan fakta jelas tentang kehidupan, kebudayaan, dan kepercayaan Orang Lom. Dan ini adalah bahwa pada tahun 2005 lewat browsing saya menemukan tautan ke penelitian sosio-antroplogi tentang Orang Lom tetangga saya ini yaitu Order and Difference: An Ethnographic Study of Orang Lom of Bangka, West Indonesia oleh Profesor Olaf H. Smedal (1989) yang studi lapangannya beliau lakukan tahun 1983 – 1984. Saya langsung mengirimkan email berikut:

“Dear Mr. Smedal,

I like to search for things on the net: things that I need, things that relate to myself, things about Bill Clinton in connection with Monica Lewinsky (ha…ha…), etc. and things that relate to my village, hometown, Bangka just in case there are articles, etc. about it that I can read and know deeply.

One of the close encounters of the last kind (above, and therefore not of the fourth kind ha…ha…) goes to your online paper concerning orang Lom, Gunung Muda, Air Abik, Bangka, west Indonesia, Indonesia whom I might in a way have a very long long time ago been related to. I find it very resourceful and useful to get to know this orang Lom more.

When I was still in Gunung Muda, Bangka some twenty years ago (now I am working in Bandung, West Java, Indonesia, http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html), I only knew (and very much less too) about orang Lom from my beloved mother who at that time happened to be a “storyteller” keen on telling the all-about-our-roots things, one of which is about orang Lom. But you can imagine how little my mother could have told me about it. At that time we very much respected these people not only due to their simple life and strong beliefs, but also to their protectiveness of their mother nature–and this continues to the present time, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/20/daerah/1762815.htm, http://perpustakaan.menlh.go.id/kbua.php?tgl=2005-05-20&

Now that I have your online paper or article about those people, I can get to know more about them even from this vast distance. I think I can not thank you enough for that.

Mr. Smedal, I think this is about all I would like to say to you for this time, hoping that you will reply to me so that I can know that you are out there knowing that I have written to you OK?

I thank you for your sincerest attention.

Keep up the good work.

Best regards,

Ferry ‘Fey’ Antoni
http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html

yang beliau segera jawab sbb:

“Dear Ferry

Thank you for your email; yes, I wrote a book on Suku Lom/Mapur that is now no longer available and so I uploaded it to the Internet.

I am at present in Indonesia (though I will not visit Bangka this time) on fieldwork and Internet connections are not very good. I thank you for the interesting information on how the perkebunan sawit ditolak oleh masyarakat. Indeed, I was in Pejam in December 2004 and heard about he plans and many people were highly skeptical. I will be back in Norway in the second week of Sepember. We can communicate again then.

Best wishes,

Olaf S.”

Beliau akhirnya menjadi teman email saya dan kami berkomunikasi beberapa kali sejak itu. Dari buku beliau saya menemukan penelitian lain tentang Orang Lom, khususnya dari sisi sosio-linguistik, yaitu Dialek Melayu Bangka oleh Profesor Bernd Nothofer (1997), yang juga mengangkat bahasa Orang Lom. Karena buku tentang penelitian beliau ini diterbitkan oleh Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia Bangi, saya langsung memesannnya lewat email dan kemudian mereka kirimkan lewat pos.

“Dear Penerbit UKM,

Assalamu’alaikum,

Saya adalah seorang anak Bangka di rantau (Bandung, Jawa Barat, Jawa) yang selalu ingin tahu tentang perkembangan pulau saya walau saya berada jaoh.

Nah, pencarian di internet mengantarkan saya kepada hal-hal yang baru tentang perkembangan pulau saya ini, termasuk penelitian antropologi tentang suku asal Bangka Lom oleh (sekarang temen online saya—saya harap) Olaf H. Smedal, yang di dalamya tersebutlah buku Dialek Melayu Bangka yang ditulis oleh Prof. Bernd Nothofer dari University of Frankfurt dan diterbitkan oleh (jauh-jauh) Universiti Kebangsaan Malaysia tahon 1997.

Pertanyaan saya adalah: apakah buku ini masih ada, terus bagaimana mendapatkannya kalau saya berminat, that is, bolehkah buku itu saya beli via mail biasa (saya bayar, kalau harganya cocok) kemudian bukunya dikirim ke Bandung sini?

Saya tunggu, dan terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih pula kepada Mr. Smedal yang telah menulis buku ini di paper onlinenya sehingga saya jadi tahu.

Best regards,

Ferry ‘Fey’ Antoni
http://www.geocities.com/ferryaar/intro.html

yang mereka jawab:

“Harga buku yang tuan maksudkan masih banyak dalam simpanan Penerbit UKM.  Sekiranya pihak tuan berminat sila hantar bank draf sebanyak Ringgit Malaysia: Dua Puluh Lima Sahaja )RM25.00 termasuk belanja post.  Harga sebenar RM17.50.  Pihak kami akan menghantar buku tersebut setelah menerima bayaran daripada pihak tuan.

Sila sertakan alamat penuh tuan kepada:
Kedai Buku Penerbit UKM
Pusat Penerbitan dan Percetakan
Universiti Kebangsaan Malaysia
43600 UKM Bangi
Selangor D.E.
MALAYSIA

Sekian, terima kasih.

Noraiti Abdul Malek”

Saya juga menemukan karya aspek sosio-linguistik lain tentang Orang Lom yaitu Lom-Indonesian-English & English-Lom wordlists yang masih karya Profesor Smedal (1987) terbitan Lembaga Nusa Jakarta yang juga saya pesan lewat Bapak Profesor Bambang Kaswanti Purwo teman Profesor Smedal dan juga dapatkan.

“Dear Pa Bambang and Mr. Smedal,

I was wondering if Atmajaya still has this title “Lom, Indonesian, English and English-Lom Wordlists, Accompanied by Four Lom Texts [Volume: Vol. 28/29]” http://www.lmp.ucla.edu/Search.aspx?MatID=0&LangID=89 available that I can order. I need it for my better understanding of the language that my, literally, neighbor, Orang Lom speak. To Mr. Smedal, how are you, Sir? It’s good to have a chance to write to you again regarding your research work that we used to discuss some time ago.

Thanking you both for your sincere attention, I’ll look forward to a favorable reply.

Regards,

Ferry Antoni
http://id-id.facebook.com/pages/Ferry-Antoni/206766160456

yang beliau jawab:

“Yes, we still have the volume you are requesting. I’m at University of Leiden at the moment, for two months, until end of January. I’ll forward this letter to someone at our institute to take care of your order.

Best wishes,

bambang”

Temuan Penting Penelitian tentang Orang Lom

Orang-orang di atas yang email-email komunikasinya sengaja saya tampilkan sangat antusias dalam membantu saya mendapatkan sumber-sumber yang saya perlukan untuk mengetahui akar jati diri penduduk asli pulau saya. Saya berterima kasih atas kebaikan mereka. Karena mereka, saya mempunyai 3 karya di atas yang menjadi sumber utama saya untuk secara pribadi menganalisa, membandingkan, dan menyimpulkan pendapat saya tentang kebudayaan, kepercayaan, dan bahasa Orang Lom.

1. Hasil Penelitian Smedal (1989)

Hasil penelitian Profesor Smedal tahun 1983 – 1984 yang kemudian dibukukan tahun 1989 benar-benar membuka mata saya tentang Orang Lom yang selama ini hanya saya dapat dari cerita-cerita mulut orang-orang di sekitar saya saja. Pada saat itu populasi Orang Lom berjumlah 752 orang (176 KK), yang terdiri dari 350 orang (88 KK) di Air Abik dan 402 orang (88 KK) di Pejam. Sebagai perbandingan, dari statistik mutakhir, pada bulan November 2012, jumlah Orang Lom adalah 1.102 orang, yang meliputi 562 orang (176 KK) di Air Abik dan 540 orang (178 KK) di Pejam. Beberapa hasil penelitiannya dapat disebutkan di bawah ini:

Pertama, Orang Lom betul orang Melayu yang kebanyakan bertani dan berladang; mereka memegang kuat adat dan ritualnya dengan istilah-istilah sehari-hari yang dimengerti oleh orang Melayu lain di luar lingkungan mereka bahkan dilakukan juga oleh orang Melayu luar: Selam cuma igamanya, adét lebih kuat; pantang suat cuma, pesumpah sumor hidup; salah omong; gawi yang bukan-bukan; pantun; dukun beranak; manjang; pekatak, dll. (dari berbagai halaman).

Kedua, Orang Lom makan daging b*** (penghilangan oleh saya), tapi mereka juga memiliki pantangan terhadap daging beberapa hewan tertentu yang lain. Dan kata Smedal “bahwa mereka mempunyai daftar pantangan makanan mereka sendiri adalah satu kenyataan yang Muslim tidak mau tahu…” (hal. 10; terj. saya).

Ketiga, Orang Lom menggunakan bentuk pantun-pantun berima dalam proses jampi-jampi pengobatan penyakit yang terdengar umum oleh orang-orang Melayu luar yang boleh jadi juga menggunakannya seperti:

Pedaré

Nik Centak, Nik centing

Nik Arak, Nik Ari

Ngenaik kuyang sibang sibu

Maté nangk terong asem

Gigi nangk beliong kapak

Ko nangkel pedaré (si anu) (hal. 43).

Keempat, Orang Lom dalam doa-doa yang lain menggunakan nama-nama tempat dan figur yang dikenal dalam Islam seperti: Isa, Nabi Rasul, Baginda Ali, Adam, Wahabi, Mohammad, surau, mesejit, Fatimah (dari berbagai halaman). Ini menunjukkan adanya jejak-jejak pengaruh Islam dalam kehidupan dan kebudayaan Orang Lom. Dan satu versi cerita menjelaskan bahwa Orang Lom ini berasal dari 4 orang Desa Gunung Muda yang menolak memeluk Islam pada masa awal Islamisasi Desa Gunung Muda pada awal abad ke-19 dan pindah ke Air Abik (lihat Smedal 1989: 39). Sebagai tambahan, bila pada tahun 1983 – 1984 jumlah Muslim Orang Lom terbilang sedikit, maka pada statistik terakhir bulan November 2012 jumlah Muslim Orang Lom Air Abik ada 60 % dan jumlah Muslim Orang Lom Pejam ada 73 %.

Kelima, Orang Lom akhirnya diketahui menggunakan bahasa atau dialek yang mirip dengan dialek Melayu Gunung Muda desa saya, sehingga Nothofer (1997) dalam penelitiannya tentang dialek Melayu Bangka mengatakan “Dialek Gunungmuda diteliti, kerana sangat mirip dialek Lom…” (hal. 15). Bahkan, berkaitan dengan doa-doa Orang Lom, Smedal (1989) mengatakan “Satu point linguistik yang harus saya tekankan adalah bahwa doa-doa mereka diungkapkan dalam bahasa yang mungkin dapat digambarkan sebagai bahasa Indonesia informal” (hal. 42; terj. saya). Satu responden penelitian Smedal (1989) sendiri terekam mengatakan “…Kami tidak kelihatan berbeda, pakaian kami tidak berbeda, dan kami menggunakan bahasa yang sama” (hal. 11; terj. saya).

2. Lom-Indonesian-English & English-Lom wordlists (Smedal 1987)

Daftar kosakata Orang Lom yang Smedal (1987) buat ini makin menunjukkan bahwa bahasa Orang Lom dekat dengan dialek Melayu Gunung Muda, sehingga ini membenarkan pendapat Nothofer di atas. Beberapa contoh dapat dilihat di bawah ini:

Bahasa Orang Lom Bahasa Gunung Muda Bahasa Indonesia
bakel bekel rencana
bakol bekol bakul
balai balai paruh
balai* balai balai
balek* belej kembali
bali’t belej kembali
banci kayek banci kayek
bandel bandel nakal
banér banér banir
bang bang di; pada
bang nun bang nun di sana; di situ
bangkai’t bangkaj mayat; bangkai
banglo benglo
bangon bengon bangun
bangsa bangsa bangsa
bantel bentel bantal
bantot bentot bosan
banyangk benyek banyak
baong* baong*
barak barak
barang bereng barang
barangkali’t berengkalej barangkali
baré apei’t bere apej bara api
barek berek baru
baret beret barat
baret dayé beret deyé barat daya
baridñ bereny baring
barkong; (‘bang rekong’) berkong; (bang rekong)

(hal. 10; tambahan kolom Bahasa Gunung Muda oleh saya).

Juga dapat dilihat bahwa bahasa Orang Lom dekat dengan Bahasa Indonesia, sehingga seorang ahli linguistik rekan Smedal sempat berujar “Lom adalah salah satu bahasa di Bangka, dan ia memiliki kesamaan tertentu dengan Bahasa Indonesia…” (dalam Smedal 1989: 167; terj. saya). Smedal boleh jadi menggunakan beberapa simbol fonetis yang bisa menimbulkan kesalahan pengucapan. Misalnya, dengan contoh-contoh yang ada dan bagaimana mereka berpadan saja dengan sejawatnya yang ada dalam dialek Melayu Gunung Muda, /baridñ/ adalah /bareny/, /banyangk/ adalah /banyak/.

3. Hasil Penelitian Nothofer (1997)

Nothofer (1997) mengatakan bahwa “Selama lebih daripada seratus tahun terakhir ini, kajian tentang keadaan linguistik di Bangka difokuskan kepada isolek yang dikatakan ‘bahasa Lom’ (hal. 17). Dan lanjutnya “Dialek Gunungmuda diteliti, kerana sangat mirip dialek Lom…” (hal. 15). Dan “…Lom menunjukkan banyak unsur Melayu Semenanjung selatan (‘Riau-Johore’) yang dipinjam selama 500 tahun terakhir ini” (Blust 1994: 125).

Nothofer menurunkan daftar kata-kata Bahasa Gunung Muda yang ia teliti, yang contohnya adalah sebagai berikut:

Melayu Baku Gunungmuda Bahasa Indonesia
punggung pungong punggung
dada dede dada
perut perot perut
usus usus usus
jantung jentong jantung
hati atej hati
lemak lemek/gemok lemak
daging daging/isej daging
kulit kulét kulit
tulang tulang tulang
darah dere darah
Sayap Kepak sayap
ekor ikok/kitok ekor
kuku kukek kuku
tanduk tanok tanduk
bulu bulek bulu
telur telok telur
tangan tangen tangan
kaki kakej kaki
lutut lutot lutut
menggigit ngerka menggigit
makan maken makan
minum minum minum
mendengar nenger mendengar
melihat nengong melihat
tahu tek tahu
mencium nyium mencium
bernafas benapes/benyawé bernafas

(hal. 96; tambahan kolom Bahasa Indonesia oleh saya; simbol fonetis untuk dialek Gunungmuda sengaja saya ubah menjadi bunyi yang langsung dapat dilafalkan dengan mudah).

Dari analisa, Bahasa Gunung Muda di atas dekat dengan Bahasa Orang Lom; dan ia juga menunjukkan kemiripan dengan dialek-dialek Melayu Bangka lain yang Nothofer (1997) teliti: Kacung, Arungdalem, Pakuk, Gadung, Dul, Tuatunu, Perlang, Belinyu, Mentok, dan Sungailiat. Sementara dialek-dialek Melayu Bangka lain ini sudah menunjukkan perkembangan fonetis dan lain-lain sesuai interaksi mereka dengan bahasa dan dialek penduduk lain, Bahasa Orang Lom tetap menunjukkan entitas asli dengan dialek awalnya.

Kesimpulan

Orang Lom yang merupakan suku asli Melayu Bangka dengan keterasingannya ternyata menyimpan rahasia besar dalam hal akar atau sumber keberadaan Bahasa Melayu Bangka, Melayu Indonesia bagian Barat, bahkan Bahasa Indonesia! Dengan data yang sudah ada dan teranalisa, untuk sementara nampaknya dapat disimpulkan bahwa Bahasa Orang Lom adalah Bahasa Melayu yang boleh jadi menjadi akar dari perkembangan berbagai dialek Melayu Bangka selanjutnya. Ini dimungkinkan karena Bahasa Orang Lom dapat dikategorikan sebagai ‘dialek pedesaan’, mengikuti istilah Nothofer (1997: 93). Dialek pedesaan adalah dialek terbatas dalam konteks penggunaan dan komunitas yang menggunakannya. Sesuai perkembangan peradaban manusia dan kebudayaannya, muncullah kemudian kota, pelabuhan, dan pemerintahan yang akan menyebabkan berkembangnya berbagai dialek Melayu Bangka dari hasil interaksi dengan orang dan bahasa lain. Ini akan memunculkan ‘dialek kota pelabuhan dan pemerintahan’ (Nothofer 1997: 93). Tapi kita tahu bahwa akar dan sumbernya akan tetap berada pada bahasa atau dialek pedesaan awal yang belum terpengaruh, yaitu Bahasa Orang Lom.

Kemudian, ada indikasi bahwa kemiripan Bahasa Orang Lom dengan banyak unsur dialek Melayu Semenanjung selatan (‘Riau-Johore’) yang dipinjam selama 500 tahun terakhir ini seperti kata Blust (1994: 125) dan dengan Bahasa Indonesia informal (Smedal 1989: 42 dan rekannya: 167) menunjukkan kontribusi, kalau tidak akar atau sumber, kepada keberadaan Bahasa Indonesia yang sekarang kita kenal. Ini kemudian ditegaskan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kota Pangkalpinang Akhmad Elvian (2012) dengan mengatakan bahwa “Bahasa Nasional kita yakni Bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari Bahasa Melayu Bangka, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Prasasti Kota Kapur, tulisan pada prasasti ini ditulis dalam Aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu.”

Penutup dan Saran

Yang dapat direkomendasikan di sini untuk dilakukan selanjutnya adalah penelitian tentang asal-usul Orang Lom dan bahasanya. Yang sementara ini diketahui adalah bahwa “Data Lom dipakai Dahl (1991) dalam usahanya untuk membuktikan bahawa nenek moyang Orang Lom berasal dari Borneo Tenggara yang berbahasa Maanyan…” (Nothofer 1997: 19). Kemudian diketahui bahwa “Hipotesis Dahl (1951) bahawa Orang Madagaskar berasal dari daerah pemakaian bahasa Maanyan (Borneo Tenggara) diterima semua sarjana linguistik historis-komparatif Austronesia… Dahl (1991) mengajukan hipotesis bahawa Borneo Tenggara berpindah ke Madagaskar melalui Bangka, oleh kerana di Bangka (di Kota Kapur) ditemukan batu bersurat yang bahagian awalnya mengandung teks yang rupanya bersurat dalam Maanyan kuno” (Nothofer 1997: 119).

Referensi:

Antoni, F. 2012. “Jejak-Jejak Pengaruh Islam Yang Ditolak Tapi Mengerangka: Yang Luput dari Interpretasi Hasil Penelitian Smedal (1989) tentang Orang Lom Suku Asli Bangka.” Makalah yang diterima dalam Seminar Internasional Melayu Gemilang di Pontianak, Kalimantan Barat, tanggal 20 – 21 Desember 2012.

Blust, R. A. 1994. Obstruent epenthesis and the unity of phonological features. Lingua 93: 111-139.

Dahl, O. C. 1951. Malgache et maanjan. Une comparaison linguistique. Oslo: Egede-Instituttet.

————. 1991. Migration from Kalimantan to Madagascar. Oslo: Norwegian University Press.

Nothofer, B. 1997. Dialek Melayu Bangka. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Smedal, O. H. 1987. Lom-Indonesian-English & English-Lom wordlists. Nusa 28/29. Jakarta: Lembaga Nusa.

Smedal, O. H. 1989. Order and Difference: An Ethnographic Study of Orang Lom of Bangka, West Indonesia. Dicetak dan dijilid dari versi online-nya di http://www.anthrobase.com/Txt/S/Smedal_O_02.htm.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.