Bagaimanakah Pengembangan Sikap dan Karakter Siswa Diimplementasikan ke dalam Pengajaran Bahasa Inggris? 2


(Artikel populer; oleh seorang NEB)

Sikap dan karakter diri adalah aspek yang penting untuk dapat ditunjukkan dalam percaturan kehidupan dunia sekarang ini. Sikap dan karakter ini tidak hanya nampak secara non-verbal melalui tingkah laku dan perbuatan yang orang bisa lihat, tetapi juga tercermin secara verbal dalam komunikasi, transaksi, dan diplomasi ide dan pikiran. Bahkan dalam banyak kesempatan, kemampuan yang disebut terakhir inilah yang amat penting untuk dapat diberdayakan. Dan ini ditunjukkan dalam kepiawaian menggunakan bahasa asing (baca, dalam hal ini: Bahasa Inggris) dalam segala fungsi bahasanya (language functions) yang relevan dan kontekstual yang ditunjang oleh unsur-unsur non-verbal seperti suara, bahasa tubuh, mimik wajah, kepribadian, dan kepercayaan diri.

Pengajaran Bahasa Inggris yang ditujukan secara oral agar siswa mampu menggunakannya untuk berbicara yang kemudian dipersempit lagi kepada bercakap-cakap dan bersosialisasi saja harus makin dipertanyakan dalam konteks relasi global yang lebih menghendaki kemampuan berkomunikasi, bertransaksi, dan berdiplomasi ide dan pikiran seperti yang disebutkan di atas. Kemampuan bercakap-cakap saja menunjukkan sosialisasi dan basa-basi berbahasa yang tidak menggambarkan kekuatan sikap dan karakter kecuali keramah-tamahan yang bahkan semu saja. Kemampuan berkomunikasi, bertransaksi, dan berdiplomasi ide dan pikiranlah yang menunjukkan keutuhan dan kekuatan jati diri.

Dalam pengajaran Bahasa Inggris, kegiatan berkomunikasi, bertransaksi, dan berdiplomasi ide ini diturunkan ke dalam fungsi-fungsi bahasa yang membentuknya yaitu: menyampaikan pikiran, memberikan alasan, memberikan contoh, menyimpulkan, bertanya, merespon, menyetujui, menidaksetujui, mengeritik, mendebat, meyakinkan, membela diri, dan memenangkan pendapat. Materi dan silabus belajar yang dibangun seputar fungsi-fungsi bahasa ini dinamakan materi dan silabus berdasarkan fungsi bahasa (function-based materials and syllabus). Fungsi-fungsi bahasa inilah yang difokuskan dalam pengajaran Bahasa Inggris kepada siswa dengan isu-isu hangat dimasukkan ke dalamnya untuk menciptakan konteks komunikasi, transaksi, dan diplomasinya.

Fungsi-fungsi bahasa ini dapat diajarkan dan dilatih sejak dini sampai dewasa dengan variasi dan pembedanya dalam topik yang dipilih, kompleksitas bahasa yang diajarkan, dan ekspektasi keluaran bahasa yang dibayangkan. Misalnya, untuk tingkat awal, siswa dapat dilatih untuk memainkan fungsi bahasa memberikan pendapat tentang topik yang ringan di seputar mereka dulu dan alasannya. Ekspektasi keluaran bahasa yang diinginkan bisa seperti: I think this is the best children book so far. It’s very colorful. The story is nice. And I like it. Walaupun masih sederhana dan ringan, keluaran bahasa seperti ini akan menjadi fondasi untuk produksi bahasa lebih lengkap dan lebih kompleks selanjutnya.

Begitu tingkatnya naik, siswa dapat diajarkan dan dilatih fungsi-fungsi bahasa itu dengan cakupan isu atau topik yang lebih serius, bahasa yang lebih kompleks, dan keluaran bahasa yang lebih berkembang. Misalnya, saat memberikan pendapat tentang isu lingkungan, katakanlah, penambangan timah, siswa dapat berpendapat sebagai berikut: I think individual tin mining contributes more to environmental destruction than people’s welfare because while only some people have enough human and financial capital to run it and make profit, environmental damage that it causes is wide (dalam http://nasbat-english.com/2012/09/yang-penting-bahasa-inggris-akademis/).

Kemampuan menggunakan fungsi-fungsi bahasa ini pada saatnya akan menciptakan figur-figur yang mempunyai sikap dan karakter yang kokoh dalam percaturan komunikasi, transaksi, dan diplomasi ide dan pikiran dalam konteks apapun yang mereka masuki secara profesional. Ini terlebih lagi kalau mereka memasuki dunia akademis, diplomasi, dan politik yang menghendaki logika (berbahasa) yang runut dan runtut dalam mengekspresikan diri dan ide dalam topik yang dibahas dengan menggunakan fungsi-fungsi bahasa dimaksud. Jangan lagi terjadi, seperti yang pernah dikatakan mantan Menlu Ali Alatas, bahwa para diplomat kita tidak mampu mengekspresikan diri dan ide dengan baik secara spontan dalam Bahasa Inggris kecuali mumpuni membaca teks pidato yang sudah dipersiapkan dan dilatih sebelumnya saja.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *