Tip Presentasi Karya Ilmiah Remaja


(Tulisan tentang tip presentasi yang secara khusus diperuntukkan bagi ikon lembaga, Indra Cipta Putra Mandiri, dan rekannya Azmie Naufal Akmal, yang lolos dan terpilih mewakili sekolah mereka SMPN 2 Padalarang dan Propinsi Jawa Barat untuk mengikuti presentasi Lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat SMP Nasional 2013 bulan September di Bali, hasil bimbingan guru sains mereka Ibu Wiwi Marwiyah, S.pd, M.Si, yang juga merupakan klien lembaga; oleh seorang NEB)

1. Presentasi bisa berbasis proposal, laporan, makalah, dan karya ilmiah, tapi pada prinsipnya semuanya sama, dalam artian ada elemen-elemen yang sama yang harus terlihat dan terukur di dalamnya.

2. Cek alokasi waktu; cek apakah alokasi waktu ini sudah termasuk sesi pertanyaan, atau hanya untuk presentasinya saja. Gunakan waktu sebaik-baiknya secara pas, jangan berlebih, boleh kurang sedikit.

3. Ingat bahwa dalam kesempatan ini, kalian tidak hanya akan presentasi; kalian akan presentasi ‘untuk dipertentangkan dengan orang lain’ (to be put in a rank against others’); juri tidak akan peduli kalian seperti apa sehari-harinya, tapi sekarang harus betul-betul bagus kalau mau dianggap. Apalagi kalau kalian memang sudah terbiasa belajar baik dan serius sehari-harinya.

4. Untuk itu (No. 3), kalian harus menunjukkan bahwa kalian lebih daripada peserta yang lain; kelebihan inilah yang akan memberikan kesan baik dan nilai plus untuk itu.

5. Kelebihan yang harus ditunjukkan (No. 4) itu mesti terlihat dalam aspek-aspek yang dinilai dalam presentasi sebagai berikut:

a. Organisasi ide:

Ide yang bermulai dari topik harus benar-benar tersampaikan dengan baik dengan logika yang runut dan runtut dari A sampai Z. Di tengah-tengah penyampaiannya, gunakan segala elemen bahasa transisi untuk menghubungkan detil-detil pendukung ide dengan dibantu dengan slide yang sudah dipersiapkan.

b. Bahasa dan penyuaraannya:

Karya ilmiah kalian bukan apa-apa; semua peserta dapat dikatakan membawa karya ilmiah dengan topik yang bagus. Dalam presentasi, jadinya yang paling penting adalah bagaimana ‘menyuarakan’ karya ilmiah kalian dengan bahasa yang baik, yang baku, yang standar seperti yang digunakan oleh komunitas ilmiah dalam kesempatan presentasi. Suara harus jelas dan cukup tinggi. Aksentuasi dan intonasi harus tepat. Kalimat yang digunakan pendek saja, atau digabungkan dengan kalimat yang lain dengan transisi yang tepat. Kalimat kompleks seperti ini dapat digunakan. Gunakan kalimat aktif.

c. Air muka, bahasa tubuh, dan gerakan tangan:

Presentasi yang disampaikan dengan organisasi ide yang runut dan runtut dalam bahasa baku dan standar (a dan b) tersebut harus dikombinasikan dengan air muka berupa kontak mata dan ekspresi wajah (eye contact and facial expressions), bahasa tubuh, dan gerakan tangan (body language and gestures) yang pas dan mendukung. Ini akan membuat presentasi kelihatan tidak statis. Tunjukkan dinamisme presentasi bermula dengan berdiri yang tegak, memilih posisi yang baik tidak menghalangi arah cahaya LCD ke layar, tidak membelakangi audiens, tidak menghalangi pandangan audiens ke laar, bergerak yang perlu waktu menghampiri laptop atau layar atau audiens, dan menunjuk dan menggunakan tangan dengan luwes.

d. Kepercayaan diri dan keyakinan kepada siginifikansi materi:

Presentasi yang disampaikan dengan organisasi ide yang sistematis, bahasa dan penyuaraannya yang tepat, serta air muka dan bahasa tubuh dan gerakan tangan yang tepat (a, b, dan c) ditambah dengan aura pribadi secara keseluruhan yang kelihatan karena itu semua akan otomatis merefleksikan kepercayaan diri dan keyakinan kalian kepada signifikansi materi kalian sendiri. Kalau ini dapat ditunjukkan dengan baik dan nampak di mata juri, ini adalah kemenangan psikologis yang biasanya berbanding lurus dengan skor yang akan diperoleh.

e. Peng-handle-an pertanyaan juri:

Terakhir, aspek penting yang terukur adalah kemampuan kalian untuk meng-handle pertanyaan apapun tapi tentu relevan dari juri. Presenting is one thing; handling questions arising from it is another. Jawablah pertanyaan dengan lantang, tegas, to the point tidak bertele-tele dan tetap dengan mengusung implementasi aspek-aspek (a, b, c, dan d) di atas. Jangan pernah harus bingung dulu memahami pertanyaan juri sehingga, misalnya, juri harus mengulangi pertanyaannya atau sampai membatalkannya dan menggantinya dengan pertanyaan yang lain. Dalam kesempatan yang kritis, gunakan strategi cerdas (smart strategy) meminta pengulangan dengan ujaran semacam: “Maaf, Pak/Bu, mohon diulangi lagi pertanyaannya dan lebih keras diucapkannya :-)” untuk sedikit mengindikasikan bahwa suara jurilah yang kurang keras, bukan kalian yang tidak mengerti langsung pertanyaannya 😉

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *