Refleksi Tatabahasa dan Norma-Norma Pragmatis Lokal dalam Bahasa Inggris


(Fragmen sebuah makalah; oleh seorang NEB)

Pertama-tama, refleksi atau transfer tatabahasa lokal dalam Bahasa Inggris sering terjadi. Prinsip sederhananya adalah bahwa kalau tatabahasa pembelajar atau penutur asing atau keduanya baku, transfernya gampang benar. Namun kalau tatabahasa awalnya tidak standar, transfernya gampang salah (lihat Antoni 2009). Antoni (2001 dan 2009) memberikan aspek-aspek tatabahasa dan contoh-contoh Bahasa Inggris pembelajar yang menunjukkan transfer aspek-aspek tatabahasa Indonesia atau lokal itu yang tidak baku, sehingga hasilnya pun salah dalam Bahasa Inggrisnya. Ini bisa terjadi pada level baik kalimat atau diskursus (discourse).

Dalam contoh ini, misalnya, ketidaktahuan pembelajar akan aspek kesejajaran bentuk dalam Bahasa Indonesia dengan ekspresi ’tidak hanya… tapi juga…’ dan ketidakperluan klausa ajektiva ’yang’ dan pengulangan bentuk yang sama (garis bawah) memaksa mereka membuat kalimat ”Not only individual sports which need sports skill but also team sports need sports skill.” Dalam contoh lain, ketidakmampuan pembelajar membuat frasa nomina yang tepat dalam Bahasa Indonesia dan juga ketidaktahuan mereka tentang aspek kesejajaran bentuk (garis bawah) menyebabkan mereka membuat kalimat ”People who seeing a movie in theater must accept the rules from the theater, like don’t take a picture or recorded the movie, etc.” Dan masih banyak contoh lainnya tentang aspek-aspek yang lain juga.

Yang pasti adalah bahwa transfer aspek-aspek tatabahasa tidak baku seperti ini harus dihindari dan pembelajar harus dilatih untuk dapat menggunakannya dengan tepat, bermula dari Bahasa Indonesia dan kelak trasnfernya ke dalam Bahasa Inggris (lihat Antoni 2009). Pendeknya, transfer aspek-aspek tatabahasa hanya bisa dilakukan dengan pertama-tama aspek-aspek tatabahasa itu harus baku. Kalau tidak, transfernya akan otomatis salah. Transfer seperti ini tidak akan membuat Bahasa Inggris kita ber-image baik. Ini hanya akan menyiratkan ketidaksempurnaan pengajaran bahasa yang bahkan bermula dari pengajaran Bahasa Indonesianya yang tidak benar (lihat Antoni 2009).

Kemudian, akan halnya norma-norma pragmatis lokal (NPL), ia dapat dipahami sebagai norma-norma sosiolinguistik atau lebih tepatnya pragmatis lokal cara dan aspek menggunakan bahasa yang ditransfer ke dalam Bahasa Inggris. Berbeda dengan tatabahasa dan aspek-aspeknya, NPL ini berhubungan dengan ekspresi-ekspresi lokal yang menyiratkan aspek budaya atau bahkan religius tertentu yang sadar atau tidak juga sering ditransfer pembelajar atau penutur asing atau kedua ke dalam Bahasa Inggris. Yang pasti adalah bahwa transfer ini pun tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, sehingga Bahasa Inggris kita tidak berakhir menjadi konyol (lihat Antoni 2010).

Yang dapat disimpulkan pada tahap ini adalah bahwa transfer baik aspek-aspek tatabahasa Indonesia yang tidak baku dan NPL yang serampangan akan menyebabkan terbentuknya Bahasa Inggris yang asing dan aneh serta konyol kedengarannya. Alih-alih dapat dipahami dengan gampang (intelligible)—walaupun tetap mungkin, Bahasa Inggris seperti ini tentu akan mendatangkan senyuman (sinis), candaan, tertawaan, bahkan bisa sampai cemoohan. Ini tentu tidak diharapkan walaupun dalam konteks komunikasi multikultural antar sesama penutur asing atau kedua Bahasa Inggris dan tidak dengan orang Amerika atau Inggris langsung. Satu contoh yang dapat dikemukakan di sini dan diambil dari paparan Antoni (2010) adalah percakapan antara seorang pemilik restoran dan calon pelanggan yang bermaksud memesan sesuatu berikut http://www.youtube.com/watch?v=NIW8WfqoJUA.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.