Mengutip dan Menyebutkan Sumber Yang Ditinggalkan dalam Proses Menulis Siswa


(Posting tentang sebuah aspek menulis yang besar; oleh seorang NEB)

Dalam dunia teknologi informasi dengan kekayaan informasi dan sumbernya yang beragam dan gratis pula seperti sekarang, salah satu aspek besar dalam menulis yang ditinggalkan siswa karena—boleh jadi—tidak diajarkan tuntas oleh guru (yang memberi tugas) adalah mengutip (citing) dan menyebutkan sumber (mentioning sources). Setiap ada tugas menulis atau membuat laporan, siswa lebih gampang memilih mencari informasi yang diperlukan secara online dan langsung menyalin dan menyimpannya (copy and paste) begitu saja tanpa mengerti dan mau menyebutkan sumber dari mana mereka mendapatkan informasi itu. Prinsipnya sebenarnya mudah saja: Mereka bisa melemparkan pendapat (opinion) begitu saja, mengutip pendapat orang lain (others’ opinions) dan menyebutkan sumbernya, dan mengutip fakta dan angka (facts and statistics) dan menyebutkan sumbernya juga. Yang penting diajarkan di sini adalah cara mengutip, memparafrasa, dan cara menyebutkan sumber secara umum atau mengikuti cara yang direkomendasi oleh lembaga atau institusi ternama tertentu seperti ‘American Psychological Association’ (APA). Siswa harus diajari etika ini sejak dini sebelum ini berkembang—seiring mereka dewasa dengan pendidikan lanjutannya—menjadi praktek plagiarisme yang sepakat dilabeli sebagai pencurian intelektual (intellectual theft).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.