Norma-Norma Pragmatis Lokal Yang Tepat Diterapkan ke dalam Bahasa Inggris


(Posting tentang penerapan norma-norma pragmatis lokal ke dalam Bahasa Inggris; fragmen sebuah makalah)

Pertama-tama, norma-norma pragmatis lokal (NPL) yang cocok diterapkan ke dalam Bahasa Inggris (kita sendiri) adalah norma-norma yang mencerminkan aspek-aspek baik budaya lokal maupun religius dengan ekspresi-ekspresinya yang khas. Kirkpatrick (2001) mengatakan bahwa para penutur asing atau kedua Bahasa Inggris akan otomatis menunjukkan identitas mereka, dan refleksi atau transfer norma-norma pragmatis dan budaya lokal mereka ke dalam Bahasa Inggris adalah cara penting melakukan ini (terjemahan oleh penulis).

Untuk mendukung pendapatnya, Kirkpatrick memberikan contoh dialog Bahasa Inggris dalam konteks budaya Minang (juga budaya Indonesia dan mungkin juga Timur secara umum) di mana penutur tidak tegas atau tidak langsung (unstraightforward or indirect) menyampaikan maksudnya, tapi berbicara dulu kesana-kemari tentang banyak topik lainnya. Dialog itu ia ambil dari tulisan Rusdi Thaib, mantan mahasiswa keturunan Minang program doktor di Curtain University, Perth, Australia. Ada penggunaan ekspresi-ekspresi Islami ‘assalamua’alaikum’ dan ‘wa’alaikum salaam.’ Kemudian ada basa-basi sana-sini sebelum menyampaikan maksudnya mengundang. Menurut Kirkpatrick hal-hal semacam ini menunjukkan norma budaya yang umum bagi orang Asia dan karenanya tidak perlu dianggap aneh diterapkan ke dalam Bahasa Inggris dalam komunikasi sesama mereka. Ini bahkan harus dianggap paling cocok untuk konteks kawasan ini.

Selanjutnya, Antoni dan Gunawan (2005) memberikan beberapa contoh tambahan ekspresi yang mencerminkan aspek budaya lokal yang diterapkan pembelajar ke dalam Bahasa Inggris dan dapat diterima secara pragmatis. Ini adalah ekspresi-ekspresi seperti “where are you going?” dalam memulai percakapan, “I want to thank God for the opportunity given to me to present this essay…” dalam memulai presentasi, dan “I am sorry if I made mistakes in my presentation. Mistakes are from me, the truth is from God…” dalam mengakhiri presentasi. Lagi-lagi semua ini menunjukkan jati diri si penutur sebagai orang Indonesia dan muslim dan otomatis saja mereka mentransfernya ke dalam Bahasa Inggris.

Untuk mendukung ini, ternyata di luar kelas dalam realitas hidup, temuan-temuan kelas ini paralel dengan apa yang didapatkan di lapangan. Berapa banyak kita mendengar laporan ekspresi atau ujaran ramah-tamah penutur asing atau kedua Bahasa Inggris kepada orang asing lainnya atau penutur asli Bahasa Inggris yang kebetulan datang ke sini sebagai turis atau tenaga ekspat dan pembelajar kita bermaksud melatih Bahasa Inggrisnya dengan berbicara langsung kepada mereka, tetapi dengan begitu lugu dan ramahnya mendatangi penutur asing atau asli itu tanpa berpikir bahwa ini mungkin akan mengganggu privacy mereka dan berkata, “Hi, Mister, can I speak with you?” atau “Where are you going, Mister?” atau “Hi, Mister, nice to meet you.”

Kemudian, NPL lain yang didasarkan kepada penggunaan bahasa lokal yang dapat diterapkan ke dalam Bahasa Inggris dengan transfer langsung walaupun dengan tingkat kehatian-hatian yang ekstra ketat adalah kolokasi (collocation) yaitu bagaimana kata-kata berjodoh (atau tidak berjodoh) dengan sesamanya dalam suatu frasa di mana yang satu menjadi kata inti (headword) dan lainnya menjadi kata penjelas (modifier(s)). Dalam sebuah konferensi internasional tentang Bahasa-Bahasa Inggris Dunia (World Englishes), penulis sempat bertanya kepada Kirkpatrick langsung—tidak hanya mengutip pendapatnya—apakah penutur asli seperti dia dapat mengerti waktu penutur asing atau pembelajar kita membuat dengan kreatif kolokasi ‘membuat kerusakan’ langsung menjadi ‘make damage’ bukannya ‘cause damage’, ‘do harm’, atau sederhana saja satu kata ‘destroy’ yang standar dalam Bahasa Inggris, dan ia mengangguk mengatakan dapat.

Berkaitan dengan ini, dalam Antoni (2001 dan 2009) temuan yang lain adalah kolokasi-kolokasi seperti ’make the information as a motivator’, ’refresh our mind’, ’make our motivation higher’, ’disavowing God’s existence’, ‘marry the same gender’, ‘disobey the limit’, dll. setara itu yang harus dicermati dengan baik. Ini karena dalam kolokasi tetap saja ada kata-kata yang tidak berjodoh, sementara kasus-kasus seperti di atas bisa jadi berada di area abu-abu (gray area) di mana frasa-frasa itu dibuat lebih secara kreatif daripada secara serampangan dan karenanya tidak harus langsung salah. Kreativitas pembuatan kolokasi seperti ini akan terus berkembang sesuai dengan kompleksitas ide yang pembelajar atau penutur asing atau kedua harus sampaikan sementara sebagian besar mereka menggunakan Bahasa Inggris mereka terlepas dari komunitas pengguna atau penutur asli bahasa itu.

Terakhir, NPL yang bisa nampak dalam Bahasa Inggris kita sendiri adalah aksen dan dialek. Tapi dengan belum terkoleksinya dengan baik sampel bahasa ujar pembelajar dan penutur Bahasa Inggris di negara kita dalam suatu korpus sampai sekarang ini, adalah susah untuk menggambarkan bagaimana transfer dalam aspek ini mesti terjadi. Yang penulis pikir aman dikatakan pada tahap ini adalah bahwa selama aksen dan dialek Bahasa Indonesia pembelajar dan penutur kita normal dalam arti tidak terlalu dipengaruhi oleh aksen dan dialek bahasa daerah mereka, maka kemungkinan transfer aspek ini ke dalam Bahasa Inggris tidak akan menghasilkan aksen atau dialek yang terdengar aneh dan asing serta konyol tetapi tetap bisa terdengar khas Indonesia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *