Penerjemah Resmi Profesional Berafiliasi Lembaga Vs Penerjemah Tersumpah Sehubungan dengan Penerjemahan Dokumen Resmi


(Posting tentang penerjemah resmi profesional berafiliasi lembaga vs penerjemah tersumpah; oleh seorang NEB)

Tulisan ini hanya merupakan pengulangan dan ringkasan saja dari artikel tentang topik yang sama yang sebelumnya sudah pernah dipostingkan di laman ini. Isu ini saya angkat lagi untuk menegaskan bahwa penerjemahan dokumen resmi macam ijazah, akta, dan dokumen pengadilan sah dilakukan oleh penerjemah resmi profesional berafiliasi lembaga (PRPBL) seperti yang sudah acapkali saya lakukan. Ini didorong oleh pertemuan saya dengan mantan siswa lama yang sekarang berprofesi sebagai pengacara—di tempat fotokopi saat sama-sama bermaksud memfotokopi (dia dokumen pengadilan dan saya bahan mengajar) beberapa saat sebelum saya menulis ini. Dia bertanya di mana saya bekerja dan apa saja yang saya lakukan sekarang. Saya beritahukan tempat saya bekerja dan saya sampaikan semua yang saya lakukan: mengepalai bidang akademis, menguliahi, mengajar, melatih, mengedit, mem-proofread, dan menerjemahkan—menerjemahkan dokumen resmi dan dokumen umum. Untuk yang disebut terakhir ini, dia bertanya apakah saya seorang penerjemah tersumpah (sworn translator). Saya jawab bahwa saya seorang PRPBL dan PRPBL sah menerjemahkan berbagai dokumen resmi. Dia tentu kukuh dengan kebanggaannya mengatakan bahwa hanya penerjemah tersumpahlah yang boleh menerjemahkan dokumen resmi. Karena dia melihat hal ini dari persepsi dan kacamatanya sendiri, sepertinya dia belum sempat tahu bahwa sekali lagi sebenarnya penerjemahan dokumen resmi sah dilakukan oleh PRPBL, tidak mutlak harus oleh penerjemah tersumpah. Saya bahkan sempat mengangkat isu ini di sebuah seminar penerjemahan nasional di kota dingin Tawangmangu dan bertanya langsung kepada narasumber yang membahas topik penerjemahan dokumen resmi dan saya dibenarkan. Kemudian, tes penerjemah tersumpah pun sebenarnya cacat geografis, karena terlokalisasi hanya di Jakarta dan untuk orang Jakarta yang ber-KTP Jakarta saja, sehingga orang luar Jakarta sekalipun mumpuni tentu tidak bisa mengikuti tes ini—tanpa KTP Jakarta. Tes penerjemah tersumpah ini akhirnya dihentikan sementara waktu sampai batas waktu yang belum ditentukan. Tes penerjemah yang masih dilakukan adalah tes serupa yang dilakukan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia) yang tidak wajib tapi hanya afdol saja. Insyaallah saya akan terus menerjemahkan berbagai dokumen resmi untuk klien saya bawa terutama ke luar negeri untuk berbagai keperluan seperti sekolah, tinggal, dan bekerja…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *