Makalah dengan Masalah: Seni Menerjemahkannya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris Bak Menyusun Risalah


(Posting tentang makalah atau tulisan bermasalah yang harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris; oleh seorang NEB)

Salah satu layanan prima NE—NASBAT English adalah menerjemahkan makalah, entri jurnal, laporan, atau teks formal lainnya dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Ternyata yang mudah ditemukan pertama-tama adalah bahwa penulisnya masih menggunakan Bahasa Indonesia dengan salah dalam berbagai aspek dalam tulisan formal seperti tersebut di atas. Dengan demikian, penerjemahan berbagai jenis tulisan formal di atas tidak bisa langsung dilakukan, tapi harus melalui perbaikan terlebih dahulu. Ada dua hal yang muncul dari fenomena ini sbb.: 1). Dari sisi penerjemah, proses penerjemahan harus bermula dari pengeditan Bahasa Indonesia tanpa mengurangi makna dan isi—yang dapat ditanyakan langsung kepada penulisnya yang notabene sebenarnya rata-rata adalah mahasiswa yang seharusnya sudah mampu menggunakan Bahasa Indonesia formal dalam tulisan dengan baik dan benar, dan 2). Dari sisi mahasiswa, siswa, pendidikan, pembelajaran Bahasa Indonesia, harus ada perbaikan pengajaran (penggunaan) Bahasa Indonesia terutama Bahasa Indonesia formal.

Dan untuk yang disebut terakhir di atas, NE—NASBAT English barangkali adalah satu-satunya lembaga Bahasa Inggris yang tidak meninggalkan layanan untuk Bahasa Indonesia, dalam hal ini program perbaikan pengajaran (penggunaan) Bahasa Indonesia di sekolah sampai perguruan tinggi bagi pengajar Bahasa Indonesia dengan bercermin dari berbagai kesalahan yang (maha)siswa tunjukkan dalam penggunaan Bahasa Indonesia dalam tulisan mereka. Contoh berikut diambil dari kutipan entri jurnal mahasiswa, kemudian perbaikannya yang ditandai warna hijau, dan penerjemahannya):

“Sedangkan empat definisi keunggulan bersaing berbeda dari yang lainnya, dan tidak ada kesamaan dalam pemakaian istilah-istilahnya, yaitu menurut Rindova dan Fombrun (1999) yang berbicara tentang monopoly rent, menurut Kroll, Wright, dan Heiens (1999) perform well relative to its rivals during good as well as bad economic times, menurut Ma (2000) unique position, menurut Dustin, Bharat dan Jitendra (2001) dalam Dustin, Bharat dan Jitendra (2014) results in benefits accruing to that company, dan menurut Newber (2008) the degree to which a firm has exploited opportunities, neutralized threats and reduced costs.”

“Sedangkan empat definisi keunggulan bersaing berbeda dari yang lainnya, dan tidak ada kesamaan dalam pemakaian istilah-istilahnya. Persisnya, Rindova dan Fombrun (1999) memberikan monopoly rent. Kroll, Wright, dan Heiens (1999) menawarkan perform well relative to its rivals during good as well as bad economic times. Ma (2000) menyebutkan unique position. Dustin, Bharat dan Jitendra (2001) dalam Dustin, Bharat dan Jitendra (2014) menyarankan results in benefits accruing to that company. Dan Newber (2008) menyatakan the degree to which a firm has exploited opportunities, neutralized threats and reduced costs.”

“Four definitions of competitive advantages differ from others, and there exist no similarities in the use of the terms. That is, Rindova and Fombrun (1999) render ‘monopoly rent.’ Kroll, Wright, and Haiens (1999) offer ‘perform well relative to its rivals during good as well as bad economic times.’ Ma (2000) mentions ‘unique position.’ Dustin, Bharat, and Jitendra (2001) in Dustin, Bharat, and Jitendra (2014) recommend ‘results in benefits accruing to that company.’ And Newber (2008) states ‘the degree to which a firm has exploited opportunities, neutralized threats, and reduced costs.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *