Konteks ‘Grammar’ adalah Teks


(Posting tentang teks sebagai konteksnya grammar; oleh seorang NEB)

Dalam satu konferensi internasional pengajaran Bahasa Inggris di Yogyakarta, sebelum mendapat giliran presentasi pada sesi paralel, saya masuk ke satu presentasi utama menarik tentang (pentingnya) pengajaran grammar tapi dengan cara yang tepat oleh seorang pakar pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Semarang Dr. Helena Agustien. Satu pernyataannya yang layak dikutip (quotable line) adalah: “The con-text of grammar is the text”; konteks grammar adalah teks. Dasar saya dan bagi saya yang suka berpikir, saya kemudian memaknai pernyataan itu secara luas begini: teks adalah sumber 2 hal besar, yaitu isi (content) dan grammar. Dalam pengajaran program persiapan TOEFL(R) bagian grammar, jadinya yang saya lakukan adalah mengajar berbagai aspek grammar penting lewat teks pilihan yang kaya beragam aspek grammar dimaksud. Siswa dilatih menganalisa banyak aspek grammar tersebut dalam teks dan membayangkan bagaimana aspek-aspek grammar itu bisa diuji nantinya. Bayangkan ada bagian teks berikut yang diambil dari artikel http://nasbat-english.com/2011/04/we-speak-our-own-english/ di laman ini:

“The point of departure that David C. S. Li uses to argue the idea as suggested by the title above is the fact that English is now a global language shared by people all over the world, the existence of which—by definition—can no longer be rendered to any one nation or group claiming it to be their native language. Citing McArthur (1992), Li writes, “…English is the possession of every individual or every community that in any way uses it, regardless of what any other individual or community may think or feel about the matter” (p. 1). Li presents some logical reasons for making such a bold proposition, three of which follow.”

Dengan dibekali pengetahuan dan kemampuan tentang S P (O), gabungan S P (O), jenis-jenis kata penting (kata benda, kata kerja, kata sifat—dan kata keterangan dari ini), dan blok-blok pembangun bahasa berupa kata, frasa, dan klausa, siswa berlatih menganalisa semua aspek grammar dalam teks di atas dan membayangkan pengujiannnya. Apa itu The point of departure? Apa fungsinya/kedudukannya/ perannya? Bagaimana dia bisa diuji? Apa itu that? Apa itu that David C. S. Li uses to argue the idea as suggested by the title above? Apa fungsinya/kedudukannya/ perannya? Apakah klausa penjelas ini bisa diperpendek? Bagaimana dia bisa diuji? Dan ini terus berlangsung seperti ini. Pada saat yang sama diharapkan isi teks juga masuk ke benak siswa. Jadi prinsipnya adalah sambil menyelam minum air. Bagi mahasiswa FKIP jurusan Bahasa Inggris, ini adalah studi korelasi, semacam: korelasi antara pemahaman grammar dan komprehensi (makna) isi teks. Dari pengalaman panjang saya mengajar seabreg aspek grammar dalam TOEFL(R), cara belajar grammar terintegrasi seperti ini terbukti lebih efektif daripada belajar grammar secara terpisah dan terserak-serak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *