‘Gerund’ Vs ‘To Infinitive’


(Posting tentang penggunaan gerund (-ing) vs to infinitive; oleh seorang NEB)

Pengajaran grammar atau structure sehubungan dengan penggunaan gerund (kata benda dari kata kerja diberi –ing) vs kata kerja awal to infinitive (to) sekarang tidak bisa lagi saklek dan robotik seperti dulu. Pengajarannya mesti mengikuti perkembangan zaman dan panduan kurikulum juga. Remaja sekarang diminta oleh kurikulum untuk mampu merumuskan masalah, berpikir, menganalisa, memeriksa, menyimpulkan. Ini semangat dari sikap ilmiah (scientific attitude). Pengajaran yang menafikkan ini membuat siswa menjadi seperti robot yang bekerja berdasarkan sistem kaku tanpa berpikir. Dan ini malah gagal seperti kata banyak ahli pendidikan Bahasa Inggris yang salah satunya adalah profesor saya sendiri di kampus.

Pengajaran robotik ini dalam hal ini terlihat misalnya dari keharusan siswa menghapal apa yang mereka sebut ‘kata-kata kerja tertentu’ seperti forgive, fancy, finish, resist, consider, continue, admit, appreciate, avoid, anticipate, postpone, enjoy, detest, excuse, keep, dan mind yang mesti diikuti oleh bentuk –ing seperti detest living dan selainnya diikuti oleh to http://nasbat-english.com/2017/01/hindari-mengajar-tanpa-kreasi-dan-inovasi/, https://www.youtube.com/watch?v=Txkj6J7UVFg. Pada kenyataannya, yang terjadi dalam praktek tidaklah seperti ini. (Terlalu) banyak kata kerja yang dapat diikuti oleh bentuk –ing tidak hanya dalam daftar yang mereka berikan. Kata-kata kerjanya tidak terbatas itu-itu saja. Jadi dengan semangat zaman dan kurikulum terutama kurtilas sekarang, proses berpikir siswa lebih penting. Dan kecakapan berpikir inilah yang dibawa ke dalam kehidupan penggunaan bahasa yang ril, bukan daftar kata kerja di atas.

Jadi, intinya, ajarkan kepada siswa bahwa kata kerja dibendakan untuk jadi subjek (S) dan objek (O) dengan –ing. Dan ini berlaku secara umum, dengan fenomena khusus teramat sedikit, dan fenomena khusus inilah yang menjadi ranah pembelajaran perkecualian nantinya. Beginilah mestinya cara berpikirnya. Dengan demikian, kata kerja atau predikat (P) yang membutuhkan S atau O langsung, dan ia berupa kata kerja, ia mesti dalam –ing. Dan ini berlaku untuk semua kata kerja atau P—sehingga daftar kata kerja tertentu di atas tentulah miskin karena terbatas.

Lihatlah try, take, attempt, allow, permit, ban, prohibit, encourage, discourage, suggest, recommend, dan masih banyak yang lain. Mereka tidak ada dalam daftar di atas, tapi mereka diikuti oleh –ing langsung sebagai O: try swimming, take dancing, allow smoking, permit leaving early, ban smoking, prohibit dating, encourage reading, discourage internet-browsing. Coba lihat betapa diberdayakannya siswa kalau pengajarannya dengan mereka berpikir jembar—dengan guru yang harus mumpuni pula tentu saja sebagai syaratnya.

Fenomena-fenomena seksi seperti want loving, need cutting, remember calling, forget giving, dll. yang guru tahu memberikan makna yang berbeda dimasukkan ke ranah pengajaran dan pembelajaran perkecualian. Gurunya kan harus mumpuni, jadi dia harus mampu menjelaskan dengan efektif perbedaan maknanya. Ajarkan bahwa kalau want bertemu –ing, maknanya menjadi pasif, sehingga sama dengan to be -ed, dst.

Seterusnya, jangan pernah membuat siswa bingung dengan mengatakan bahwa ada beberapa kata kerja yang bisa diikuti oleh –ing atau to, dan ini pilihan saja. Ini salah kaprah. –Ing dan to sebenarnya tidak saling menggantikan. Mereka benar hanya untuk kedudukan dan konteks masing-masing. Dan kalau kejadiannya di akhir kalimat, tidak berarti –ing dan to nya sama-sama O. Dalam misalnya love dancing dan love to dance, dancing adalah O, sedang to dance bukan O. To dance tetap P bergabung (dikawinkan) dengan love menjadi love to dance dalam satu rangkaian.

Kalau konteksnya love to dance ballet, ballet-lah O-nya, sedang love to dance adalah P dalam satu rangkaian. Dalam konteks love dancing Balinese dances, dancing Balinese dances seluruhnya lengkap O dalam satu rangkaian; lebih jauh lagi, Balinese dances adalah O juga, tapi untuk dancing. Inilah yang penting diajarkan kepada siswa. Proses mereka berpikir lebih penting, bukan sekedar daftar kata-kata kerja mati yang harus dihafalkan dan tidak dibawa ke kehidupan penggunaan bahasa sehari-hari dan profesional.

Lanjut lagi, kata-kata kerja yang tidak bisa, tidak logis diikuti oleh O langsung pastilah diikuti oleh to. Ini yang benar. Mari ambil contoh yang diberikan dalam komentar kepada pendapat saya di tautan video di atas, hope. Hope tidak bisa, tidak logis diikuti oleh O langsung. Pembuktiannya, tidak ada bentuk hope it, hope you, hope a good present. Ini pembuktian ke siswa bahwa hope tidak ber-O langsung kata benda, juga karenanya tidak bisa diikuti oleh –ing. Jadinya, to-lah yang harus mengikutinya: hope to meet you, hope to live long, hope to succeed in influencing others well, hope to change people’s mind for a good cause, dll.

Mengulangi sedikit, mengambil kasus want, want bisa diikuti oleh O langsung dan –ing, tapi dengan makna pasif. Dengan demikian, untuk makna normal, pastilah ia diikuti oleh to. Inilah pengajaran dan pembelajaran dengan memasukkan proses berpikir seperti yang diamanatkan oleh perkembangan zaman dan kurikulum yang berubah 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *