Guru: Digugu dan Ditiru—Masih


(Posting tentang guru yang masih digugu dan ditiru; oleh seorang NEB)

Hati-hati dengan apa yang pendidik, pengajar ucapkan (baik atau buruk) karena siswa akan mempunyai pilihan sendiri untuk mengingat atau melupakannya (selective recollection). Secara psikis, kata, tindak, dan laku yang paling baik dan paling buruklah yang akan diingat bahkan mengubah siswa; kata-kata yang biasa saja akan menjadi sama saja, tengah-tengah, rata-rata (mediocre) dan hilang ditelan waktu.

Adalah guru agama SMP saya, Oloan Harahap, yang meninggalkan satu bekas yang tidak pernah hilang dari benak saya dan mempengaruhi saya mendidik dan mengajar sekarang waktu dulu beliau mengajarkan tentang ayat pertama yang turun kepada Nabi besar Muhammad SAW (selanjutnya Nabi): ‘Iqra’, bacalah.

Kata beliau, awalnya Nabi diminta untuk membaca literal ayat itu dan dst. sampai selesai. Selanjutnya Nabi tentu mempunyai kapasitas untuk memahami makna ayat itu lebih daripada siapapun. Bagi kita, selain kembali mengaji ayat itu, membaca artinya, dan mengkaji maknanya, kita secara praktis bisa memahaminya sebagai harus ‘membaca’ (baca: melihat, mendalami, mengkaji, memahami, menyimpulkan, untuk kemudian mengambil tindakan) apapun yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Di kemudian hari di dunia penelitian dan pendidikan, ini yang dilabeli sebagai sikap ilmiah (scientific attitude) yang untuk konteks Indonesia dimasukkan ke dalam kurtilas. ‘Iqra’, ‘membaca’ seperti ini jadinya tentu diaplikasikan tidak hanya dalam pelajaran membaca, tapi juga dalam semua pelajaran—dan ini benar adanya.

Dalam pelajaran apapun, siswa harus mampu ‘membaca’: melihat topik/isu/masalah, mendalami, mengkaji, membaca pola, memahami, menyimpulkan, meneorikan sendiri/mengambil tindakan. Kalau ada kesalahan dalam pelaksanaannya, tentu ini bukan salah konsep kurtilas, sikap ilmiah, dan ‘membaca’, tapi salah pembekalan kepada guru untuk melaksanakannya dengan tepat di lapangan, di kelas.

Direduksi, khusus untuk pelajaran bahasa asing, Bahasa Inggris, sama saja. Dalam pelajaran aspek kemampuan manapun, saya memaknainya sebagai siswa harus mampu melihat, mendalami, mengkaji, membaca pola, memahami, menyimpulkan, dan meneorikan sendiri.

Jadinya, misalnya, untuk pelajaran membaca, ada 2 hal yang saya lakukan: Pertama, siswa betul-betul membaca teks untuk memahami topiknya, ide utamanya, detil-detil pentingnya, kesimpulan, dan implikasinya yang mungkin. Kedua, siswa ‘membaca’ teksnya kembali, tapi kali ini untuk memahami pola dan aturan bahasanya: penggunaan kata bendanya, kata kerjanya, kata sifatnya, frasanya, klausanya, klausa pendeknya, dst.

Siswa diajarkan untuk dapat mengambil kesimpulan dan teori sendiri tentang pola dan aturan bahasa itu. Yang penting siswa dibimbing; inilah fungsi guru yang utama. Dengan mengikuti satu pendapat besar pakar pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Semarang Dr. Helena Agustien dan menyempurnakannya, konteks semua pola bahasa, aturan bahasa, dan akhirnya tatabahasa adalah teks (The context of patterns, rules, and finally grammar itself as a whole is the text). Teks di-‘baca’, dibongkar untuk mengekstrak pola dan aturan bahasa.

Pengekstrakan pola dan aturan bahasa lewat teks itu tetap mengharuskan siswa menggunakan keterampilan berpikirnya (thinking skills), dengan menggunakan tahapan kognisi penting dari Bloom: analisa (analysis), sintesa (synthesis), aplikasi (application), dan evaluasi (evaluation). Bahwa pelaksanaannya terpaksa mengadopsi beberapa prinsip dan pendekatan Barat yang sudah terlebih dulu mengkanonisasinya, membukukannya seperti di atas, saya anggap ini sebagai Sunnatullah saja; tapi ini semua berawal dari ayat pertama kepada Nabi: ‘Iqra’. Terima kasih Pak Oloan 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.