‘Pemerintah’ Mesti Diganti


(Posting tentang kata ‘pemerintah’ yang mesti diganti)

Teringat waktu kecil saat suka nyuruh-nyuruh adik, Ibu langsung menyela: ‘Jangan suka jadi pemerintah, walaupun sebagai anak tertua ya.’ Dalam dan dari Bahasa Melayu, kata ‘pemerintah’ (order giver, tukang perintah, penyuruh) memang tidak baik. Ia bermakna negatif.

Ia mengandung makna thaghut, Fir’aun, dan pezalim yang kerjanya memerintah dan menyuruh-nyuruh saja, sementara ia ingin dianggap dewa, tuhan, paling berkuasa, peminta bakti, pengharap hormat, paling mulia, paling suci, paling tidak salah, dan tetap masuk Surga.

Ini tentu terlaknat dan calon arang. Untuk tingkat negara, kata yang tepat pengganti ini adalah ‘pengurus’, ‘pengatur’, atau ‘penata’ (government). Kata, apalagi nama, adalah doa. Jadi kata dan nama baiklah yang seharusnya dipakai. Betul?

Barangkali paralel dengan pengurus RT, pengurus RW, maka sekarang kita harus berani mengatakan pengurus kelurahan, pengurus desa, pengurus kecamatan, pengurus kota, pengurus kabupaten, pengurus propinsi, pengurus negara—dan, des, pengurus Negara Republik Indonesia 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *