Latar


indra2

Latar

Kecenderungan Bahasa Inggris saat ini adalah Bahasa Inggris akademis (Academic English). Selanjutnya, Bahasa Inggris sekarang secara umum bukan lagi bahasa yang dimiliki oleh sebagian orang saja sebagai keahlian yang diperoleh lewat pendidikan khusus bahasa, tapi sudah menjadi alat untuk siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh, adalah gampang memahami bahwa seorang lulusan program Bahasa Inggris menjadi guru Bahasa Inggris, tetapi kita lebih sering lagi melihat fenomena berikut:

– mahasiswa tingkat akhir yang hanya akan lulus dengan skor TOEFL(R) 500.

– guru Biologi yang harus mengajar materi pelajaran Biologi dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelasnya.

– siswa sekolah yang harus mempunyai Bahasa Inggris akademis yang baik untuk mengikuti pelajaran dan berpartisipasi bertanya, menjawab, merespon, dll. dalam proses belajar-mengajar di kelas.

– lulusan jurusan teknik mesin perguruan tinggi terkenal dengan predikat cum laude dan kesayangan dosennya yang gagal bekerja di perusahaan asing seperti Exxon Mobile dll. karena tidak lulus dalam wawancara kerja yang menggunakan Bahasa Inggris.

– siswa SMA yang harus wawancara dalam Bahasa Inggris untuk mendapatkan beasiswa belajar program singkat di Amerika.

– orang tua yang ingin bisa berbahasa Inggris untuk mengajarkan anak-anak mereka di rumah.

– calon pegawai negeri beberapa lembaga pemerintah yang gagal lulus tes karena skor TOEFL(R) yang di bawah standar yang diharapkan.

– pegawai pemerintah, dosen, dll. yang harus memiliki skor TOEFL(R) 550 untuk mendapatkan beasiswa belajar di luar negeri.

– pegawai swasta dan pemerintah yang harus belajar dan bisa berbahasa Inggris karena prestise, promosi.

– dll.

Fakta Lapangan

Ada banyak lembaga pelatihan dan pengajaran Bahasa Inggris formal atau non-formal yang memberikan layanan tidak hanya Bahasa Inggris untuk tujuan umum (English for General Purposes) tapi juga Bahasa Inggris untuk tujuan khusus (English for Specific Purposes). Namun ada indikasi bahwa lembaga-lembaga ini tidak berhasil membuat siswa dapat menggunakan Bahasa Inggrisnya dengan berani dan mudah sesuai kepentingannya.

Ada indikasi hal ini terjadi karena lembaga-lembaga tadi salah fokus dalam menempatkan Bahasa Inggris kepada siswanya seperti di atas, yang seharusnya lebih diperlakukan saja sebagai Bahasa Inggris akademis (Academic English). Dalam banyak kasus, Bahasa Inggris diperlakukan sebagai keterampilan atau keahlian yang harus sempurna diperoleh, padahal dia hanya diperlukan sebagai alat saja untuk melakukan sesuatu bagi siswa dan juga kebanyakan orang.

Ini berakibat kepada siswa yang tidak mau dan mampu menggunakan Bahasa Inggrisnya dengan gampang karena takut akan salah dan bimbang akan kemampuan diri, yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya Bahasa Inggris diajarkan pada posisi dan porsi yang sebenarnya kepada siswa.

Kompromi Solusi

Walaupun tetap harus diajarkan dengan sempurna, pada akhirnya—sebagai alat—Bahasa Inggris tidak harus sempurna dalam aturan tapi fungsional dalam penggunaannya. Ini adalah paradigma paling mutakhir dalam pengajaran Bahasa Inggris yang mulai diadopsi luas karena fakta lapangan menyatakan demikian. Duliman, pengguna Bahasa Inggris sebagai bahasa perhubungan yang pernyataannya dikutip sebagai salah satu pendapat praktisi di sini, menegaskan hal tersebut. Beberapa makalah dalam seminar dan konferensi terakhir pun telah dipresentasikan untuk membahas isu ini (lihat misalnya Antoni 2003, Antoni dan Gunawan 2005, dan Antoni dan Zuraida 2010).

Untuk mendukung ini, Alwasilah (2001: 46) mengatakan bahwa dalam Bahasa Inggris ujar “kreativitas dan ketidakakuratan dapat diterima” (terj.). Hamied (2001: 25) mengatakan bahwa dengan mengajarkan bentuk bahasa dan fungsi bahasa secara terpisah ”kita tidak dapat menjamin bahwa siswa kita akan dapat dengan otomatis mempelajari Bahasa Inggris sebagai satu entitas bahasa sekaligus komunikasi” (terj.). Antoni (2003: 3) mengatakan,”…dalam Bahasa Inggris ujar aturan bahasa dapat diaproksimasi karena keterpahaman adalah prinsip yang lebih penting …” (terj.).

Dengan prinsip ini semua orang dapat mempelajari dan menggunakan Bahasa Inggris sesuai kebutuhannya seperti yang digambarkan pada bagian pertama di atas. Tidak ada batasan pekerjaan, profesi, usia, latar sosial, dan latar pendidikan dalam hal ini. “… Bahasa Inggris adalah milik setiap individu dan setiap bangsa yang menggunakannya dengan cara mereka sendiri …” (Li 1991: 1 mengutip McArthur 1992) (terj.).

Dan akhirnya dapat dikemukakan di sini bahwa kebanyakan orang di dunia belajar dan menggunakan Bahasa Inggris bukan untuk mengadopsi norma-norma hidup Amerika, tapi untuk memperoleh kemampuan yang cukup untuk berkomunikasi secara luas dan mengekspresikan identitas diri dan pikiran-pikiran mereka (Honna dan Takeshita 1995) (terj.).

Referensi:

Alwasilah, A. C. (ed.). 2001. Language, Culture, and Education: A Portrait of Contemporary Indonesia. Bandung: CV. Andira.

Antoni, F. (2003, October). “Common mistakes students make and what it may suggest we should do to fix the problem: an account of advanced 4 students’ essay-writing workdrafts.” Makalah presentasi seminar internasional di Jakarta.

Antoni, F. & Gunawan, M. H. (2005, December). “Incorporating local pragmatic norms into TEFL as a way both to put more meaning to it and to respect local cultures: how feasible?” Makalah presentasi seminar internasional di Yogyakarta.

Antoni, F. & Zuraida, I. (2010, April). “Teaching our very own English: ideas on making it not look foolish.” Makalah presentasi internasional di Bali dan kemudian Malaysia.

Hamied, F. A. (2001, February). “English language education in Indonesia.” Makalah yang dipresentasikan pada The East-West Center and Ohama Foundation Workshop on Increasing Creativity and Innovation in English Language Education.

Li, David C. S. (1999). Incorporating L1 Pragmatic Norms and Cultural Values in L2: Developing English Language Curriculum for EIL in the Asia-Pacific Region. Asian Englishes. Tersedia online di http://www.alc.co.jp/asian-e/li.html.