Bahasa Inggris Saya, Jati Diri saya


(Artikel populer)

Beberapa dekade yang lalu, pengajaran Bahasa Inggris ditujukan kepada keakuratan penggunaan grammar, lafal, aksen, bahkan intonasi yang harus dimiripkan dengan penutur asli Bahasa Inggris sekaligus. Padahal menurut seorang pakar pendidikan Bahasa Inggris dari UPI hal ini tidak akan pernah terjadi. Siswa kita akan selalu menunjukkan siapa mereka (baca: jati diri) mereka dalam  dan dengan Bahasa Inggrisnya. Mereka tidak akan pernah dapat sama dengan penutur asli Bahasa Inggris yang sedari awal menggunakan bahasa ini.

Kabar baiknya adalah bahwa dari kacamata pembelajaran Bahasa Inggris paling mutakhir hal ini sah-sah saja dan bahkan diberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Kita harus mau mengakui bahwa Bahasa Inggris yang kita pakai adalah Bahasa Inggris kita sendiri, bukan Bahasa Inggris Amerika, Bahasa Inggris Inggris, Bahasa Inggris Australia, bahkan bukan Bahasa Inggris Korea, Bahasa Inggris Singapura, apalagi Bahasa Inggris Jepang—yang bisa jadi lebih jelek daripada Bahasa Inggris kita. Hal yang terakhir ini malah dirasakan sendiri oleh seorang profesional Indonesia yang bekerja di Badan Tenaga Atom Internasional Kantor Jepang.

Hal yang paling penting dalam komunikasi multikultural kita dalam Bahasa Inggris adalah intelligibility atau keterpahaman, sedangkan accuracy atau keakuratan grammar dapat diaproksimasi. Kalaupun terjadi unintelligibility atau ketidakpahaman, kemampuan berbahasa dan berkomunikasi menyiratkan adanya kecakapan bertanya, meminta klarifikasi, meminta penjelasan, meminta pengulangan, meminta pengerasan suara, dll. Inilah sejatinya hakekat komunikasi Bahasa Inggris pada ujung terakhir penggunaan bahasa secara nyata.

Aspek-aspek seperti aksen, pilihan kata secara kreatif, dan muatan lokal budaya kita akan terus ada dan melekat. Ini tidak akan pernah terhapus dan sejatinya malah harus ditunjukkan karena kita memiliki ownership terhadap Bahasa Inggris yang kita miliki dan gunakan. Presiden Soekarno sangat baik menunjukkan hal ini dalam satu wawancara dengan wartawan asing pada masanya. Walau bukan pemain sepakbola tapi Presiden pertama Republik ini, Soekarno bisa saja dengan bangga merasakan ada ’Garuda di dadaku’ waktu membusung dada menggunakan Bahasa Inggrisnya sendiri di hadapan pers asing.

Masih kata pakar pendidikan Bahasa Inggris di atas, kalau begitu baiknya pengajaran Bahasa Inggris di sini digiring saja kepada aspek yang lebih penting yaitu pengembangan kemampuan berpikir kritis lewat Bahasa Inggris. Benar saja, figur sekaliber mantan menteri luar negeri kita Ali Alatas pernah mengatakan bahwa kebanyakan diplomat kita walau mampu ’berbicara’ Bahasa Inggris selalu kikuk dan kalah dalam banyak diplomasi level intenasional yang menghendaki kemampuan lebih dari sekedar mampu ’bicara’: mendebat, mengeritik, menidaksetujui, membantai, dan mengalahkan pendapat orang lain.

Nyatalah bahwa bagusnya Bahasa Inggris dalam aspek-aspek di atas yang dimiripkan dengan penutur aslinya belum tentu menjamin kehandalan berkomunikasi seperti yang pernah ditunjukkan oleh orang-orang besar negeri ini seperti Soekarno dengan Bahasa Inggris berwajah mereka sendiri. Pengajaran Bahasa Inggris seharusnya memperkuat kepribadian dan jati diri kita sebagai bangsa melawan penindasan asing yang dalam hal ini dibungkus dalam konsep pikiran, kata, kalimat, dan diskursus yang harus kita lawan dengan bahasa yang sama berwajah kita. Viva Soekarno! Bravo Alatas!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *