Menggunakan Bahasa Inggris di Dusun Global: Mengokohkan Jati Diri dengan Menjejal Norma Pragmatis Lokal


(Makalah presentasi awalnya; dibiarkan begitu saja)

Pendahuluan

Paralel dengan memakai Bahasa Indonesia, menggunakan Bahasa Inggris di era global ini juga seyogyanya diarahkan kepada upaya menunjukkan dan menguatkan identitas diri sebagai bangsa. Ini berarti bahwa kita harus mampu menggunakan Bahasa Inggris dengan merefleksikan sikap, gaya, dan cara kita sendiri dalam menggunakannya yang dapat dilihat orang lain sebagai khas Indonesia, dan bukannya menjadi kebarat-baratan dengan Bahasa Inggris kita dalam logat, aksen, serta kepribadian seperti yang dapat kita lihat pada segelintir remaja, orang, dan selebriti yang terpengaruh oleh media atau saluran seperti MTV.

Ini dapat dipahami karena Bahasa Inggris sekarang adalah Bahasa Inggris global yang dimiliki oleh semua orang di seluruh dunia, yang karenanya keberadaan dan perkembangannya tidak dapat lagi diserahkan kepada bangsa mana pun yang mengaku bahwa bahasa ini adalah kepunyaan mereka. Dengan mengutip McArthur (1992), Li (1999: 1) menulis,”…Bahasa Inggris adalah milik setiap individu dan setiap bangsa yang menggunakannya dengan cara mereka sendiri, terlepas dari pandangan bangsa lain tentang hal ini” (terjemahan oleh penulis).

Berangkat dari prinsip ”yang menggunakannya dengan cara mereka sendiri” dan berdasarkan paparan Antoni (2003), Antoni dan Gunawan (2005), dan Antoni (2010), paper ini akan berturut-turut membahas: (1). hakekat menggunakan Bahasa Inggris di dusun global; (2). ruang untuk tatabahasa dan norma-norma sosiolinguistik Bahasa Inggris di dusun global; (3). refleksi tatabahasa dan norma-norma pragmatis lokal (NPL) dalam menggunakan Bahasa Inggris; (4). NPL yang tepat diterapkan ke dalam Bahasa Inggris; dan (5). rekomendasi pengadopsian NPL dalam pengajaran Bahasa Inggris secara umum.

Bahasa Inggris di Dusun Global

Bahasa Inggris di dusun global adalah bahasa perhubungan (lingua franca) yang digunakan oleh para penutur yang bahasa ibu atau pertamanya bukan Bahasa Inggris. Mereka hanya menggunakan Bahasa Inggris karena bahasa inilah yang paling luas dipakai di dunia di dalam berbagai aspek kehidupan baik formal, non-formal, maupun informal.

Kenyataan ini ternyata membawa implikasi bahwa Bahasa Inggris yang mereka gunakan tidak harus dan bukan lagi Bahasa Inggris yang persis dipakai oleh para penutur aslinya seperti di Inggris, Amerika, atau Australia. Namun dengan mengacu kepada pemahaman yang paling mutakhir, ternyata fenomena ini sah-sah saja. Justru sebenarnya hal ini diperlukan.

Prinsipnya adalah bahwa Bahasa Inggris yang kita gunakan akan mencerminkan siapa kita atau dari mana kita berasal. Beberapa contoh yang sudah biasa kita lihat adalah bahwa kita tahu kapan seseorang yang sedang berbahasa Inggris sepertinya seorang India, Singapura, Malaysia, bahkan Amerika, Inggris, Australia, Skotlandia, atau Irlandia sekalipun. Ini akan nampak dalam utamanya aksen dan dialek. Hal lain bisa berupa cara berpikir, pilihan kata, kolokasi, dan lafal.

Di daerah asalnya sendiri seperti Amerika, Inggris, dan Australia, Bahasa Inggris digunakan dengan aksen dan dialek yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Di Amerika, misalnya, aksen Bahasa Inggris warga Texas bisa berbeda dengan aksen bahasa yang sama di New York. Demikian pula di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia, aksen Bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Mereka-mereka yang senang menonton beragam film dari berbagai negara tentu sudah terbiasa dengan perbedaan aksen ini.

Berbedanya aksen dan beberapa aspek lain Bahasa Inggris para penutur asing atau kedua ini adalah pengaruh latar belakang bahasa dan norma budaya mereka yang sengaja atau tidak ditransfer ke dalam Bahasa Inggris. Ini dapat dibenarkan karena sistem nilai, kepercayaan, dan tingkah laku mereka dalam bahasa dan budayanya sendiri sudah sedemikian terpatri sehingga tidak gampang hilang atau dihilangkan. Bahkan mereka akan memeliharanya.

Kalaupun ternyata ada masalah ketidakterpahaman (unintelligibility) dalam komunikasi sesama mereka penutur asing atau kedua, maka kecakapan berbahasa menyiratkan adanya kemampuan bertanya, meminta klarifikasi, atau meminta pengulangan oleh pihak yang tidak mengerti. Kemampuan inilah yang malah sering dilupakan dalam pembahasan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa global, bahasa internasional, dan bahasa perhubungan sehingga seakan Bahasa Inggris kita harus sempurna dan seperti penutur asli kalau hendak berkomunikasi dengan berhasil. Pendapat seperti ini tidak mendapatkan tempat yang layak lagi dalam konteks komunikasi global dalam Bahasa Inggris.

Tatabahasa dan Norma-Norma Sosiolinguistik Bahasa Inggris

Pengajaran tuntas tatabahasa Bahasa Inggris terutama beberapa tahun yang lalu juga sampai sekarang ini boleh-boleh saja. Yang tidak tepat adalah bahwa pemerolehan kemampuan ini harus sempurna juga di pihak pembelajar. Ini terutama dalam aspek bahasa ujaran. Dalam bahasa ujaran, sekalipun formal, yang paling penting adalah keterpahaman (intelligibility) bukannya keakuratan tatabahasa (accuracy). Seperti dikemukakan di atas, kalaupun ternyata ada masalah ketidakterpahaman (unintelligibility) dalam komunikasi, maka kecakapan berbahasa seperti kemampuan bertanya, meminta klarifikasi, atau meminta pengulangan dapat digunakan oleh pihak yang tidak mengerti.

Pentingnya pengajaran tatabahasa yang baik misalnya dikemukakan sendiri oleh penulis (Antoni 2003 dan Antoni dan Gunawan 2005) dalam makalahnya, yang merekomendasikan beberapa cara untuk mengajarkan tatabahasa Inggris sedemikian rupa sehingga pembelajar mempelajari (learn) dan memperolehnya (acquire) dengan efektif. Dengan demikian, tidak ada niat penulis untuk mengatakan bahwa pengajaran tatabahasa Bahasa Inggris yang baik tidak penting, tapi pendapat yang mengatakan bahwa pembelajar harus memperolehnya dengan sempurnalah yang tidak tepat. Dalam Bahasa Inggris tulis yang umumnya lebih formal, misalnya, tatabahasa Inggris yang baik amat penting sehingga pembelajar sedapat mungkin harus memperolehnya dengan tuntas.

Akan halnya norma-norma sosiolinguistik Bahasa Inggris, di masa-masa lalu pengajaran aspek ini sangat dominan. Bahkan ini teramat penting sehingga, misalnya, mata kuliah Pemahaman Silang-Budaya (Cross-Cultural Understanding) pun diajarkan terutama kepada mahasiswa Jurusan (Pendidikan) Bahasa Inggris, yang nanti akan menularkan ini kepada siswanya waktu mereka sudah mengajar. Isinya kurang lebih adalah bahwa Bahasa Inggris itu harus dipelajari dengan segala aspek sosiolinguistik tentang bagaimama ia dipakai oleh para penutur aslinya di Amerika atau Inggris. Li (1999: 2) menyebut ini sebagai Anglo-American Sociolinguistic Norms.

Norma-norma yang biasanya getol diajarkan oleh guru Bahasa Inggris dalam aspek ini adalah kesopanan (politeness), ketegasan/kelangsungan (straightforwardness/directness), membuat permintaan (making requests), menolak (refusing), menggunakan kata sapaan (using terms of address), mengeluh (complaining), meminta maaf (offering apologies) (lihat Li 1999). Norma-norma ini tentu saja diajarkan dengan cara orang Inggris atau Amerika menggunakannya. Lucunya, Li mengatakan bahwa kebanyakan pembelajar akhirnya menggunakan norma-norma ini dengan cara-cara berdasarkan budaya mereka sendiri. Mereka mentransfer cara lokal mereka ke dalam aspek-aspek ini walaupun tidak semuanya tepat.

Hal seperti ini sekarang dimengerti sebagai proses alami dan tidak perlu salah. Apalagi sekarang pembelajar dan penutur asing atau kedua Bahasa Inggris tidak lagi pasti menggunakan Bahasa Inggris mereka dengan orang Inggris atau Amerika, tetapi dengan rekan-rekan mereka sendiri sesekolah, sedaerah, senegara, atau sekawasan sebagai hanya bahasa perhubungan. Bahkan kalaupun mereka benar-benar harus menggunakan Bahasa Inggris mereka dengan orang Inggris atau Amerika, orang Inggris atau Amerika pun diharapkan dapat mengerti bahwa pembelajar atau penutur asing atau kedua itu akan menggunakan Bahasa Inggris mereka dengan cara mereka sendiri, yang mungkin berbeda. Inilah yang menjadi inti dari komunikasi antar-budaya (intercultural communication) yang mengisyaratkan kesaling-pahaman, toleransi, penghormatan, dan prasangka baik sebagai pengganti komunikasi silang-budaya (cross-cultural communication) yang sarat muatan asing saja sehingga berat sebelah (one-sided) dan tidak adil.

Refleksi Tatabahasa dan Norma-Norma Pragmatis Lokal dalam Bahasa Inggris

Pertama-tama, refleksi atau transfer tatabahasa lokal dalam Bahasa Inggris sering terjadi. Prinsip sederhananya adalah bahwa kalau tatabahasa pembelajar atau penutur asing atau keduanya baku, transfernya gampang benar. Namun kalau tatabahasa awalnya tidak standar, transfernya gampang salah (lihat Antoni 2009). Antoni (2001 dan 2009) memberikan aspek-aspek tatabahasa dan contoh-contoh Bahasa Inggris pembelajar yang menunjukkan transfer aspek-aspek tatabahasa Indonesia atau lokal itu yang tidak baku, sehingga hasilnya pun salah dalam Bahasa Inggrisnya. Ini bisa terjadi pada level baik kalimat atau diskursus (discourse).

Dalam contoh ini, misalnya, ketidaktahuan pembelajar akan aspek kesejajaran bentuk dalam Bahasa Indonesia dengan ekspresi ’tidak hanya… tapi juga…’ dan ketidakperluan klausa ajektiva ’yang’ dan pengulangan bentuk yang sama (garis bawah) memaksa mereka membuat kalimat ”Not only individual sports which need sports skill but also team sports need sports skill.” Dalam contoh lain, ketidakmampuan pembelajar membuat frasa nomina yang tepat dalam Bahasa Indonesia dan juga ketidaktahuan mereka tentang aspek kesejajaran bentuk (garis bawah) menyebabkan mereka membuat kalimat ”People who seeing a movie in theater must accept the rules from the theater, like don’t take a picture or recorded the movie, etc.” Dan masih banyak contoh lainnya tentang aspek-aspek yang lain juga.

Yang pasti adalah bahwa transfer aspek-aspek tatabahasa tidak baku seperti ini harus dihindari dan pembelajar harus dilatih untuk dapat menggunakannya dengan tepat, bermula dari Bahasa Indonesia dan kelak trasnfernya ke dalam Bahasa Inggris (lihat Antoni 2009). Pendeknya, transfer aspek-aspek tatabahasa hanya bisa dilakukan dengan pertama-tama aspek-aspek tatabahasa itu harus baku. Kalau tidak, transfernya akan otomatis salah. Transfer seperti ini tidak akan membuat Bahasa Inggris kita ber-image baik. Ini hanya akan menyiratkan ketidaksempurnaan pengajaran bahasa yang bahkan bermula dari pengajaran Bahasa Indonesianya yang tidak benar (lihat Antoni 2009).

Kemudian, akan halnya norma-norma pragmatis lokal (NPL), ia dapat dipahami sebagai norma-norma sosiolinguistik atau lebih tepatnya pragmatis lokal cara dan aspek menggunakan bahasa yang ditransfer ke dalam Bahasa Inggris. Berbeda dengan tatabahasa dan aspek-aspeknya, NPL ini berhubungan dengan ekspresi-ekspresi lokal yang menyiratkan aspek budaya atau bahkan religius tertentu yang sadar atau tidak juga sering ditransfer pembelajar atau penutur asing atau kedua ke dalam Bahasa Inggris. Yang pasti adalah bahwa transfer ini pun tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tetap ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, sehingga Bahasa Inggris kita tidak berakhir menjadi konyol (lihat Antoni 2010).

Yang dapat disimpulkan pada tahap ini adalah bahwa transfer baik aspek-aspek tatabahasa Indonesia yang tidak baku dan NPL yang serampangan akan menyebabkan terbentuknya Bahasa Inggris yang asing dan aneh serta konyol kedengarannya. Alih-alih dapat dipahami dengan gampang (intelligible)—walaupun tetap mungkin, Bahasa Inggris seperti ini tentu akan mendatangkan senyuman (sinis), candaan, tertawaan, bahkan bisa sampai cemoohan. Ini tentu tidak diharapkan walaupun dalam konteks komunikasi multikultural antar sesama penutur asing atau kedua Bahasa Inggris dan tidak dengan orang Amerika atau Inggris langsung. Satu contoh yang dapat dikemukakan di sini dan diambil dari paparan Antoni (2010) adalah percakapan antara seorang pemilik restoran dan calon pelanggan yang bermaksud memesan sesuatu.

NPL yang Tepat Diterapkan ke dalam Bahasa Inggris

Pertama-tama, NPL yang cocok diterapkan ke dalam Bahasa Inggris (kita sendiri) adalah norma-norma yang mencerminkan aspek-aspek baik budaya lokal maupun religius dengan ekspresi-ekspresinya yang khas. Kirkpatrick (2001) mengatakan bahwa para penutur asing atau kedua Bahasa Inggris akan otomatis menunjukkan identitas mereka, dan refleksi atau transfer norma-norma pragmatis dan budaya lokal mereka ke dalam Bahasa Inggris adalah cara penting melakukan ini (terjemahan oleh penulis).

Untuk mendukung pendapatnya, Kirkpatrick memberikan contoh dialog Bahasa Inggris dalam konteks budaya Minang (juga budaya Indonesia dan mungkin juga Timur secara umum) di mana penutur tidak tegas atau tidak langsung (unstraightforward or indirect) menyampaikan maksudnya, tapi berbicara dulu kesana-kemari tentang banyak topik lainnya. Dialog ini ia ambil dari tulisan Rusdi Thaib, mantan mahasiswa keturunan Minang program doktor di Curtain University, Perth, Australia. Selengkapnya dialog itu diberikan di bawah ini:

A female (A, aged 40) wants to invite a friend (B, aged 41) to a wedding party. A goes to B’s house.

A: (knocks at the door). Assalamua’alaikum

B: Wa’alaikum salaam. Please come in

A: Are you alone?

B: Yes. I am always alone during the day

A: Where are your children?

B: My son is helping his father in the rice field and my daughter is studying at school

A: What are you growing at the moment?

B: Rice. Earlier we grew chilli. What about your children?

A: Oh, he is still in Jakarta. I haven’t heard from him for months now. But I believe the saying ‘no news is good news’

B: What is he doing in Jakarta?

A: He is a tailor in Tanggerang. He works for his uncle

B: Has he married?

A: Yes. He married a Javanese girl

B: That’s good

A: Oh, what I would like to tell you is this…do you know Hassan’s daughter?

B: I vaguely know her

A: She is going to marry Chairil’s son. The wedding party will be next Friday. We hope you can come

B: Insyaallah I will come

A: I think I should be off now. Assalamu’alaikum

B: Wa’alaikum salam

Dapat dilihat bahwa ada penggunaan ekspresi-ekspresi Islami ‘assalamua’alaikum’ dan ‘wa’alaikum salaam.’ Kemudian sebelum A menyampaikan maksudnya untuk mengundang B, ia mulai dulu dengan menanyakan beberapa hal tentang B seperti keberadaannya, anaknya, dll. sebelum menyampaikan maksudnya mengundang. Menurut Kirkpatrick hal-hal semacam ini menunjukkan norma budaya yang umum bagi orang Asia dan karenanya tidak perlu dianggap aneh diterapkan ke dalam Bahasa Inggris dalam komunikasi sesama mereka. Ini bahkan harus dianggap paling cocok untuk konteks kawasan ini.

Selanjutnya, Antoni dan Gunawan (2005) memberikan beberapa contoh tambahan ekspresi yang mencerminkan aspek budaya lokal yang diterapkan pembelajar ke dalam Bahasa Inggris dan dapat diterima secara pragmatis. Ini adalah ekspresi-ekspresi seperti “where are you going?” dalam memulai percakapan, “I want to thank God for the opportunity given to me to present this essay…” dalam memulai presentasi, dan “I am sorry if I made mistakes in my presentation. Mistakes are from me, the truth is from God…” dalam mengakhiri presentasi. Lagi-lagi semua ini menunjukkan jati diri si penutur sebagai orang Indonesia dan muslim dan otomatis saja mereka mentransfernya ke dalam Bahasa Inggris.

Untuk mendukung ini, ternyata di luar kelas dalam realitas hidup, temuan-temuan kelas ini paralel dengan apa yang didapatkan di lapangan. Berapa banyak kita mendengar laporan ekspresi atau ujaran ramah-tamah penutur asing atau kedua Bahasa Inggris kepada orang asing lainnya atau penutur asli Bahasa Inggris yang kebetulan datang ke sini sebagai turis atau tenaga ekspat dan pembelajar kita bermaksud melatih Bahasa Inggrisnya dengan berbicara langsung kepada mereka, tetapi dengan begitu lugu dan ramahnya mendatangi penutur asing atau asli itu tanpa berpikir bahwa ini mungkin akan mengganggu privacy mereka dan berkata, “Hi, Mister, can I speak with you?” atau “Where are you going, Mister?” atau “Hi, Mister, nice to meet you.”

Kemudian, aspek lain yang didasarkan kepada penggunaan bahasa lokal yang dapat diterapkan dalam Bahasa Inggris dengan transfer langsung walaupun dengan tingkat kehatian-hatian yang ekstra ketat adalah kolokasi (collocation) yaitu bagaimana kata-kata berjodoh (atau tidak berjodoh) dengan sesamanya dalam suatu frasa di mana yang satu menjadi kata inti (headword) dan lainnya menjadi kata penjelas (modifier(s)). Dalam sebuah konferensi internasional tentang Bahasa-Bahasa Inggris Dunia (World Englishes), penulis sempat bertanya kepada Kirkpatrick langsung—tidak hanya mengutip pendapatnya—apakah penutur asli seperti dia dapat mengerti waktu penutur asing atau pembelajar kita membuat dengan kreatif kolokasi ‘membuat kerusakan’ langsung menjadi ‘make damage’ bukannya ‘cause damage’, ‘do harm’, atau sederhana saja satu kata ‘destroy’ yang standar dalam Bahasa Inggris, dan ia mengangguk mengatakan dapat.

Berkaitan dengan ini, dalam Antoni (2001 dan 2009) temuan yang lain adalah kolokasi-kolokasi seperti ’make the information as a motivator’, ’refresh our mind’, ’make our motivation higher’, ’disavowing God’s existence’, ‘marry the same gender’, ‘disobey the limit’, dll. setara itu yang harus dicermati dengan baik. Ini karena dalam kolokasi tetap saja ada kata-kata yang tidak berjodoh, sementara kasus-kasus seperti di atas bisa jadi berada di area abu-abu (gray area) di mana frasa-frasa itu dibuat lebih secara kreatif daripada secara serampangan dan karenanya tidak harus langsung salah. Kreativitas pembuatan kolokasi seperti ini akan terus berkembang sesuai dengan kompleksitas ide yang pembelajar atau penutur asing atau kedua harus sampaikan sementara sebagian besar mereka menggunakan Bahasa Inggris mereka terlepas dari komunitas pengguna atau penutur asli bahasa itu.

Terakhir, NPL yang bisa nampak dalam Bahasa Inggris kita sendiri adalah aksen dan dialek. Tapi dengan belum terkoleksinya dengan baik sampel bahasa ujar pembelajar dan penutur Bahasa Inggris di negara kita dalam suatu korpus sampai sekarang ini, adalah susah untuk menggambarkan bagaimana transfer dalam aspek ini mesti terjadi. Yang penulis pikir aman dikatakan pada tahap ini adalah bahwa selama aksen dan dialek Bahasa Indonesia pembelajar dan penutur kita normal dalam arti tidak terlalu dipengaruhi oleh aksen dan dialek bahasa daerah mereka, maka kemungkinan transfer aspek ini ke dalam Bahasa Inggris tidak akan menghasilkan aksen atau dialek yang terdengar aneh dan asing serta konyol tetapi tetap bisa terdengar khas Indonesia. Potongan wawancara Bung Karno berikut akan menjelaskan hal ini. Kita dengan mudah akan dapat mengatakan bahwa aksen dan dialek Bung Karno tidak seperti orang Inggris atau Amerika, tetapi khas sebagai orang Indonesia. Tetapi yang pasti, Bahasa Inggrisnya tetap memberikan image yang baik baginya sebagai penutur asing Bahasa Inggris. Apalagi ini kemudian tentu dipadukan dengan karakternya, wibawanya, dan posisinya sebagai seorang presiden waktu itu.

Rekomendasi Pengadopsian NPL dalam Pengajaran Bahasa Inggris

Dari penjelasan pada bagian terdahulu paper ini, dapat disimpulkan bahwa refleksi dan transfer NPL dalam Bahasa Inggris adalah hal yang normal dan wajar apalagi dalam kerangka konsep-konsep besar yang sekarang diperkenalkan seperti ’bahasa global’ (global language), ’komunikasi multikultural’ (multicultural communication), ’komunikasi internasional’ (international communication), ’pemahaman antar-budaya’ (intercultural understanding), dan ’Bahasa-Bahasa Inggris Dunia’ (World Englishes) yang ditambahkan kepada nilai-nilai sejagat seperti toleransi, penghormatan kepada perbedaan, keterbukaan pikiran, sensitivitas, penundaan penilaian kepada orang lain, persamaan derajat, dan empati.

Pengajaran Bahasa Inggris yang berimbang sejatinya tidak hanya memasukkan norma-norma sosiolinguistik Bahasa Inggris (English Sociolinguistic Norms) saja kepada diri pembelajar, tetapi juga NPL (local pragmatic norms) yang barangkali akan lebih relevan terutama bagi pembelajar yang akan dipersiapkan untuk persaingan global dalam komunitas multikultural, bukan persaingan dengan Amerika atau Inggris sebagai entitas tunggal. Ini akan membutuhkan guru-guru yang tidak hanya lancar berbicara tetapi juga mempunyai kompetensi pragmatis (pragmatic competence) untuk mengimplementasikan NPL dengan tepat. Dalam pada ini, mereka juga dapat menyampaikan kepada para pembelajar bahwa penutur asli Bahasa Inggris yang memiliki nilai-nilai di atas akan dapat mengerti juga mengapa dan bagaimana kita menggunakan Bahasa Inggris dengan cara-cara pragmatis kita sendiri.

Penutup

Dapatlah akhirnya disimpulkan bahwa Bahasa Inggris di dusun global adalah Bahasa Inggris yang dimiliki oleh semua orang. Perkembangan dan warnanya akan dipengaruhi oleh penuturnya sendiri berdasarkan norma pragmatis budaya dan religius lokalnya. Tapi dalam kerangka bahasa perhubungan dalam konteks multikultural dalam dunia global, hal ini menjadi terjustifikasi dengan mudah. Penutur asli pun dapat bersimpati dan berempati dengan proses ini. Dalam komunikasi terutama dengan bahasa ujar, yang paling penting adalah keterpahaman (intelligibility) sedangkan ketepatan tatabahasa (accuracy) dapat diaproksimasi (approximated). Kalaupun ada masalah ketidakterpahaman (unintelligibility), fungsi-fungsi berbahasa seperti bertanya, meminta klarifikasi, dan meminta pengulangan dapat digunakan. Tapi ini semua tidak mengurangi tanggung jawab guru Bahasa Inggris untuk mengajarkan bahasa ini dengan baik dalam semua aspek termasuk tatabahasanya.

Rujukan:

Antoni, F. & Radiana, I (2001, September). “Common mistakes students make and what it may suggest we should do to fix the problem: an account of advanced 4 students’ essay-writing workdrafts.” Makalah yang digelar di Konferensi Internasional LIA, Jakarta.

Antoni, F. (2003, October). “Teaching Grammar and Topics Integratedly Revisited: An Alternative for Tomorrow’s ELT in Indonesia.” Makalah yang digelar di Konferensi TEFLIN ke-51, Bandung.

Antoni, F. & Gunawan, M. H. (2005, December). “Incorporating local pragmatic norms into TEFL as a way both to put more meaning to it and to respect local cultures: how feasible?” Makalah yang digelar di Konferensi TEFLIN ke-53, Yogyakarta.

Antoni, F. (2009, November). “Improving the teaching of Indonesian language: reflecting on students’ mistakes in their English discourse.” Makalah yang digelar di Konferensi Internasional Pendidikan Bahasa, Makassar.

Antoni, F. (2010, April). “Teaching Our Very Own English: Ideas on Making It Not Look Foolish.” Makalah yang digelar di Konferensi Internasional LIA, Bali; kemudian digelar juga oleh rekan Ida Zuraida di Konferensi Internasional MELTA, 16-17 Juni, 2010 di Kuching, Sarawak, Malaysia.

Kirkpatrick, A. (June 2001). “New approaches for English language teaching: implication for the curriculum and for teacher selection.” Paper yang dipresentasikan pada Seminar on Specific English for Indonesians, Bandung.

Li, David C.S. (1999). Incorporating L1 Pragmatic Norms and Cultural Values in L2: Developing English Language Curriculum for EIL in the Asia-Pacific Region. Asian Englishes. Tersedia daring di sini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *