Tidak Ada Pesimisme dalam Hadits Nabi Besar Muhammad SAW, Bahkan dari Kacamata Ilmu Modern


(Posting tentang ketidakadaan pesimisme dalam Hadits Nabi Besar Muhammad SAW, bahkan dari kacamata ilmu modern)

Kata-kata Nabi Besar Muhammad SAW dengan cara beliau meredaksikannya bisa berimplikasi hukum, kabar, atau peringatan.

Untuk memberi contoh, suatu ketika beliau menyampaikan: “’Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya’. Mereka berkata: ’Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’“.

Karena penasaran, “mereka berkata: ’Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ’Cinta dunia dan takut akan mati’” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud (4297), Ahmad (5/287), dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958)).

Tentu kita harus memahami hadits di atas bukan sebagai hukum, tapi kabar tentang masa depan sebagai peringatan—bukan hukuman atau takdir buruk. Muslim tentu tidak pesimis. Muslim tidak mau menjadi kaum seperti yang digambarkan di atas. Muslim harus melakukan sesuatu untuk meyakinkan hal di atas tidak terjadi. Muslim harus terus berproses untuk menjadi umat yang terbaik, seperti firman Allah SWT: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran: 110).

Jadi Nabi Besar Muhammad SAW tentu tidak memaksudkan kata-kata beliau di atas menjadi pesimisme untuk kaum Muslim, tapi beliau memperingatkan dengan redaksi sedemikian rupa sehingga “… the speaker wishes to prompt the hearer to look for a meaning which is different from, or in addition to, the expressed meaning” (Thomas 1995: 65), yaitu bahwa ada pesan moral (moral message) dalam pernyataan beliau di atas yang harus ditangkap oleh Muslim yang optimis dan cerdas, yaitu bahwa Muslim harus menjadi umat yang bersatu, kuat, berpengaruh, dan memimpin dunia. Wallahu alam bis sawab.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *